Kamis, 09 Juni 2011

TUJUH BENTUK UJIAN KEIMANAN


KAJIAN JUZ 20


Dalam permulaan Juz 20 yakni surat 27 ayat 60 sd 64 Allah mengajak orang-orang beriman untuk tafakur atau merenungkan secara mendalam hal-hal sbb.:

1.      - Bukankah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi, menurunkan air hujan dan dengan air hujan itu   ditumbuhkannya kebun-kebun yang berpemandangan indah?
2.       Bukankah Allah telah menjadikan Bumi tempat kamu berdiam, dijadikannya sungai-sungai yang mengalir di celah-celahnya, dijadikannya gunung-gunung yang dari jauh terlihat biru dan menjadikan pemisah antara air tawar dan air laut?
3.       Bukankah Allah yang mengabulkan orang-orang yang berdoa  dan menghilangkan kesusahan? Bukankah Dia yang menjadikan kamu khalifah di muka bumi?
4.       Bukankah Allah yang telah memberi tanda-tanda sebagai petunjuk saat kamu dalam kegelapan di daratan dan di lautan dan Dia yang mendatangkan angin yang bertiup lembut sebelum kedatangan rahmat-Nya?
5.       Bukankah Allah yang menciptakan semua mahluk sejak awalnya dan mengulanginya kembali? Dan bukankah Dia yang memberikan rezeki dari langit dan dari bumi?

Dari ayat-ayat yang berupa pertanyaan tersebut seakan tersirat pertanyaan-pertanyaan lain seperti ini :

1.       Lalu mengapa kamu masih sibuk dengan dirimu sendiri? Hati kamu masih banyak diliputi kemusrikan yaitu banyaknya keinginan dan pemikiran yang bercabang-cabang yang tidak pernah kamu kontrol apakah sesuai dengan kehendak dan perintah-Nya?
2.       Lalu mengapa kamu tidak mensyukuri dengan sebenar rasa syukur berbagai karunia Allah yang telah dilimpahkan-Nya kepadamu?
3.       Lalu mengapa kamu masih bersikukuh dengan keyakinanmu sendiri bahwa kenikmatan itu adalah jika banyaknya uang dan harta benda serta pujian dari orang-orang? Diuji sedikit saja dengan kesempitan kamu langsung kehilangan iman yaitu merasa susah dan berkeluh kesah? Mengapa keimananmu sekedar bahasa?
4.       Lalu mengapa kamu masih bersekongkol dengan setan yakni mengambil tabiat setan sebagai tabiatmu? Pikiran dan perasaanmu masih simpang siur saat solat. Kamu malas dan banyak mencuri kesempatan untuk bermalas-malasan. Kamu begitu semangat saat membicarakan kejelekan orang lain, begitu bangga saat bercaka-cakap tentang harta benda, tempat  dan usaha yang kamu miliki , begitu bangga jika mengenal dan dekat dengan orang kaya. Namun kamu mengantuk jika membaca atau mendengar paparan Al Quran dan kamu tidak pernah bangga dengan sebenarnya kepada-Ku? Apakah kamu tidak sadar selalu berdusta kepada-ku?

Kita hendaknya tergugah dan menyadari kita masih tertipu hawa nafu sendiri tetapi selalu menyangka diri baik. Seorang yang benar imannya  bersikap keras terhadap diri sendiri dan bersikap lembut terhadap orang lain, bukan sebaliknya.
Seorang yang menyatakan diri beriman akan diuji Allah untuk menyatakan kepada orang itu sendiri untuk mengenal dirinya apakah dia seorang pendusta atau seorang beriman seperti yang dia sangka, karena Allah Maha menggetahui permulaan dan akhirnya.
Ujian-ujian Allah terdiri atas tujuh bentuk. Adakalanya diberikan semua atau sebagian sebagaimana besar-kecilnya tergantung pada kadar keimanan seseorang.

1.       Ujian Menghadapi penentangan dan permusuhan. Sudah merupakan sunatullah setiap pembawa kebenaran menghadapi penentangan dan permusuhan dari lingkungan keluarga dan masyarakat. Rasul SAW yang sedemikian halus budi-pekertinya dan sejak muda disukai masyarakat sampai dijuluki Al-Amin, ketika menyampaikan kebenaran, ditentang dan dimusuhi sedemikian hebat. Kepada Beliau Allah berfirman : “ Dan janganlah Engkau bersedih hati terhadap mereka dan janganlah (dadamu) merasa sempit terhadap upaya tipu daya mereka” ( S 27:70).
Menghadapi kondisi ini Allah berfirman : “ Maka bertawakallah kepada Allah, sungguh Engkau berada di atas kebenaran yang nyata.” ( S 27:79)

2.       Ujian Perpisahan dengan orang yang dicintai. Ujian ini merupakan ujian terberat dari semua ujian selainnya. Cinta merupakan kondisi terdalam dari batin dan batin lebih unggul dari lahir. Ketika seseorang mengalami kelezatan atau penderitaan batin maka ia bisa mengabaikan kondisi lahir semisal lapar dan haus. Namun bila seseorang lapar atau haus tidak akan berpengaruh kuat pada kondisi batin sebagaimna sebaliknya. Ibu kandung Nabi Musa mengalami keguncangan luar biasa ketika dihadapkan pada pilihan keharusan menghanyutkan bayinya di sungai Nil. Allah menjelaskan kondisi ini dalam surat 28 ayat 10 :
“ Dan hati Ibu Musa menjadi kosong. Sungguh, hampir saja dia menyatakannya (rahasia tentang Musa), seandainya tidak Kami teguhkan hatinya agar dia termasuk orang yang percaya/beriman (pada janji Allah).”

3.       Ujian Kesulitan dan kesempitan. Ujian ini umumnya dialami oleh semua orang beriman. Kesulitan berhubungan dengan situasi dan kondisi umum, sedangkan kesempitan berhubungan dengan ketidak-cukupan pemenuhan kebutuhan. Nabi Musa diuji dengan dua hal ini setelah pergi meninggalkan istana ke arah Madyan. Ia lebih mendahulukan menolong memberi minum ternak yang digembalakan dua orang puteri Nabi Syuaib daripada dirinya sendiri yang dahaga. ( S 28: 23-24).

4.       Ujian Penglihatan dan Pendengaran. Penglihatan dan pendengaran adalah sarana masuknya informasi ke dalam hati. Ketika kita tidak mengendalikan apa yang dilihat dan didengar maka hati akan terpolusi. Diriwayatkan ketika Nabi Musa berjalan mengikuti dua orang puteri Nabi Syuaib untuk memenuhi undangannya, salah seorang tersingkap betisnya. Nabi Musa segera menghindarkan pandangannya dan meminta dia yang berjalan lebih dulu.

5.       Ujian dalam lingkungan pergaulan.  Allah menciptakan perbedaan sifat dan karakter di antara manusia sebagai ujian satu sama lain. Untuk ini kita diperintahkan bersabar tidak  memaksa orang lain harus sesuai dengan keinginan dan standar kita. Jika melihat kekurangan kawan maka carilah kelebihannya, demikian pula di antara suami-istri. Orang yang paling bersih keimanannya adalah orang yang paling mencintai sahabat-sahabatnya. Dia tidak akan memaafkan dirinya jika tidak mampu memaafkan kesalahan kawannya. Allah berfirman dalam Surat 28 ayat 54 : ”Mereka itulah diberi pahala dua kali disebabkan kesabaran mereka. Dan mereka menolak keburukan dengan kebaikan....”

6.       Ujian kenikmatan dan kekayaan.  Ujian ini adalah ujian yang paling berbahaya sangat sedikit orang yang bisa lulus dengan nilai baik karena tidak disadari sebagai ujian. Ketika seseorang tidak mampu bertahan dengan ujian kesempitan maka dapat dipastikan ia tidak akan mampu mengendalikan diri saat dibukakan pintu kelapangan dan kemudahan. Dia akan bangga dan sibuk dengan hartanya. Allah menceritakan kisah Qorun yang telah diberi harta yang banyak :
“Dia(Qorun) berkata: ’ Sesungguhnya aku diberi (harta itu) semata-mata karena ilmu yang ada padaku.’ Tidakah dia tahu bahwa Allah telah membinasakan umat-umat yang sebelumnya yang lebih kuat dan lebih banyak mengumpulkan harta? Dan orang-orang
yang berdosa itu tidak perlu ditanya tentang dosa-dosanya.”( S 28:78)

7.       Ujian Penangguhan waktu.Terhadap orang-orang ingkar, orang-orang yang menentang dengan keras dan orang-orang berdosa ada kalanya Allah menjadikan mereka semakin makmur dan maju dalam usahanya dan juga diberi umur panjang. Ini merupakan ujian bagi orang-orang yang beriman.
Firman Allah dalam Surat 29 ayat 4 :
“Ataukah orang-orang yang mengerjakan kejahatan itu mengira bahwa mereka akan luput dari (azab) Kami? Sangat buruklah apa yang mereka tetapkan itu!”





TANTANGAN DALAM MENEGAKKAN AJARAN


KAJIAN JUZ 9

Firman Allah dalam Surat 7 ayat 88:
“Pemuka-pemuka yang menyombongkan diri dari kaum Syuaib berkata: ‘Wahai Syuaib! Pasti kami usir engkau bersama orang-orang yang beriman dari negeri kami kecuali engkau kembali kepada agama kami.’ Syuaib berkata: ‘ Apakah (kamu akan mengusir kami) kendatipun kami tidak suka?
Para Rasul berjuang sepenuhnya untuk menegakkan ajaran Allah. Mereka tidak pernah gentar menghadapi ujian dan tantangan dari umat. Nabi Syuaib ditolak kaumnya, dimusuhi dan diusir. Nabi Musa menghadapi tantangan dari seorang penguasa yang lalim, Firaun, yang merasa  berkuasa dengan kebesaran kerajaan dan harta-benda yang dimilikinya. Namun akhirnya para Rasul yang menang dan kaum yang mendustakan dibinasakan.
Kaum Nabi Musa, Bani Israil, adalah kaum yang lemah keimanannya. Setelah diselamatkan Allah menyeberangi laut merah mereka terpikat oleh keyakinan suatu kaum yang tetap memiliki berhala. Begitu pula saat Nabi Musa meninggalkan mereka untuk munajat kepada Allah beberapa waktu, Bani Israil membuat patung anak sapi dari emas dan menyembahnya, hanya sebagian kecil yang tetap berpegang pada ajaran nabi Musa. Juga pembangkangan mereka untuk tinggal di Baitul Maqdis dan pelanggaran aturan hari Sabat.
Kisah kaum Bani Israil ini adalah sebagai alat ukur bagi keimanan kita. Seberapa teguh seorang yang mengaku beriman memegang ajaran Allah? Apakah saat dihadapkan pada tantangan kondisi iman begitu cepat goyah? Ataukah kuat sebagaimana para Rasul?
Manusia sesuai fitrahnya pada kedalaman hatinya mengakui keesaan Allah. Namun dikarenakan lebih mengutamakan keinginan hawa nafsu maka hijab tebal menutupi  pandangan batinnya. Pengakuan imannya tidak selaras dan mudah berpaling. Allah mengibaratkan orang yang berpaling melepaskan ajaran Al Quran yang diterimanya sebagai anjing(S 7:175-176).
Ciri orang yang beriman, yaitu yang benar dan teguh keimanannya  sbb.:
1.       Pemaaf, memberi teladan pada yang makruf namun tidak bersikeras menasehati orang yang bodoh( S 7:199).
2.       Saat ada perubahan kondisi hati pada penurunan iman, segera memohon ampun kepada Allah dan melakukan introspeksi ( 7:201)
3.       Tidak pernah lalai akan kehadiran Allah, apalagi disaat awal matahari terbit dan menjelang tengelamnya, namun tidak dengan dzikir mengeraskan suara(7:205).
4.       Tidak pernah malas melakukan kebaikan-kebaikan sesuai perintah-Nya, senantiasa menjaga kesucian hati dan konsisten pada satu  tujuan yakni pengabdian pada-Nya. (7:206)
5.       Senantiasa memperbaiki dan menjaga hubungan baik dengan sesama mukmin (8:1)
6.       Bila mendengar nama Allah bergetar hatinya, bertambah kuat imannya saat mendengar ayat-ayat Allah dan bertawakal kepada-Nya(8:2).
7.       Merealisasikan solatnya dalam perilaku sehari-hari dan mampu memberi manfaat berupa infak(8:3)

Terhadap orang-orang yang benar imannya inilah Allah memerintahkan untuk pergi berjihad di jalan-Nya. Firman-Nya dalam S 8 ayat 5:
“Sebagaimana Rabbmu menyuruhmu pergi dari rumahmu dengan kebenaran, padahal sebagian orang beriman tidak menyukainya.”
Konsep jihad tidaklah sempit dalam pengertian peperangan fisik. Sebagaimana hadis Rasul SAW yang terkenal yang diucapkan beliau sepulang dari perang badar bahwa jihad yang paling besar adalah jihad memerangi hawa nafsu sendiri.
Hawa nafsu cenderung pada kelezatan, kesenangan, kemudahan dan kelapangan. Ia tidak suka bila harus menanggung kesulitan dan ujian kesempitan. Contoh sederhana adalah ia tidak suka mengurangi tidur untuk bangun di tengah malam, kalaupun dipaksa melakukannya ia beranggapan harus diganti dengan tidur pada pagi atau siang harinya karena sifatnya hawa nafsu cenderung pada kemalasan. Bila dihadapkan pada situasi yang sulit semisal permusuhan sengit dia akan merasa takut dan gentar.
Firman Allah dalam S 8 ayat 15 :
“ Hai orang-orang yang beriman, bila bertemu dengan orang-orang kafir yang sedang menyerangmu, maka janganlah kamu membelakangi mereka (mundur).”
Allah mengingatkan bahwa Allah membimbing manusia untuk memiliki kehidupan sesungguhnya (8:24) jangan terpukau pada harta dan anak yang sebenarnya mereka itu adalah cobaan. Untuk memiliki kekuatan iman jangan solat asal-asalan yang tidak melahirkan apa-apa, apalagi keteguhan.
Firman Allah dalam S 8 ayat 35:
“Dan solat mereka di sekitar Baitullah itu tidak lain hanyalah siulan dan tepuk tangan. Maka rasakanlah azab disebabkan keingkaranmu.”
Salah satu azab Allah di dunia adalah kehidupan yang serba salah. Yaitu bergelimang dalam kegalauan dan kebingungan. Maka taatilah perintah Allah dan Rasul-Nya.  Allah telah memerintahkan untuk berjuang hingga tidak ada lagi fitnah dan ajaran Ad-Din hanya bagi Allah semata serta jadikanlah  Allah sebagai pelindung karena Dialah dan bukan selain Dia,  sebaik-baik penolong.

PERBEDAAN ILMU & PERSANGKAAN

KAJIAN JUZ 8


Allah berfirman dalam Surat 6 ayat 111, yang merupakan awal Juz 8 sbb.:
“ Dan sekalipun Kami benar-benar menurunkan malaikat kepada mereka dan orang yang telah mati berbicara dengan mereka dan Kami kumpulkan segala sesuatu di hadapan mereka, mereka tidak juga akan beriman, kecuali jika Allah menghendaki. Tapi kebanyakan mereka tidak mengetahui”.

Kecuali orang yang benar takutnya kepada Allah, hampir semua orang menganggap dirinya baik. Ketika melakukan suatu kesalahan ia akan mencari berbagai dalih pembenaran dan segera melupakannya, namun ketika melihat kesalahan orang lain sangat menggangu pikirannya bahkan tidak sungkan mencerca dengan pedas.
Hal tersebut juga termasuk  ajaran yang dianutnya. Ia merasa paham yang dianutnya yang paling benar. Ketika melihat ajaran atau aliran lain yang berseberangan ia segera mencap paham lain itu sesat dan kafir. Akan tetapi saat ia ditanya sejauh mana ilmu yang diketahuinya atas paham yang dianutnya, bagaimana riincian kandungan kitabnya, bagaimana sejarahnya, dsb. Ia akan menjawab hanya mengikuti saja orang tua atau gurunya, namun ia tetap yakin dia yang paling benar.
Firman Allah dalam Surat 6 ayat 116:
Dan jika kamu mengikuti kebanyakan orang di bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Yang mereka ikuti hanyalah persangkaan belaka dan mereka hanya membuat kebohongan.”
Jika kita bertanya kepada orang yang beragama lain misalnya yang beragama Nasrani, ia kan menjawab dengan mantap agamanya paling benar. Tetapi belum tentu dia menguasai bagaimana sejarah sesungguhnya saat terjadi keguncangan  dan perselisihan keraguan di kalangan murid dan masyarakat saat terjadi peristiwa penyaliban atas siapa yang disalib, siapa yang pertama kali mengajarkan paham Trinitas, siapakah Paulus? Tidak tahukan dalam Perjanjian baru sendiri ada bukti-bukti yang menunjukan perselisihan paham antara Paulus dengan murid Yesus itu sendiri ? Bagaimana sejarah Nasrani yang murni yang dianut para murid Yesus bisa tersingkir dan tergantikan dengan paham Trinitas? Berapa banyak Injil yang tersebebar saat itu yang saling bertentangan? Kapan diadakannya konsili yang menetapkan 4 Injil yang diakui dan kenapa hal itu terjadi? Siapa itu Yahya, Matius, Lukas? Apakah mereka pernah bertemu Yesus? Kapan dan kenapa timbul Kristen Protestan? Dsb.
Demikian pula jika kita bertanya kepada kalangan umat Islam, apa saja yang diuraikan Allah dalam surat Al Baqoroh? Apa saja perintah dan larangan Allah di dalamnya? Apa isi surat Al Mukmin jika kamu mengaku orang beriman? Apa isi Surat Muhammad? Apa isi surat Al Haj jika kamu telah pergi haji? Juz 30 terdiri atas  berapa surat? Bagaimana sejarah islam di Indonesia? Paham apa saja yang telah tersebar dan berasimilasi? Benarkah ritual yang dijalankan masih murni atau telah berbaur dengan tradisi dan  ajaran lain? Apakah kita hanya mengikuti tata cara dari orang tua dan masyarakat tanpa berfikir? Bagaimana kalau mereka keliru?
Seorang sarjana barat, Cliford Geertz dalam tulisanya “The Javanese Religion” menyatakan bahwa Islam di Jawa adalah Islam sinkretik yang merupakan campuran antara Islam, Hindu Budha dan Animisme. Corak Islam Jawa merupakan pemaduan dari berbagai unsur yang telah menyatu sehingga tidak bisa dikenali lagi sebagai Islam. Wali songo pada masa penyebaran Islam memadukan Islam dengan budaya yang ada di masyarakat untuk meraih minat umat. Pada perjalanannya hal ini semakin kental menyatu. Sehingga banyak keyakinan dan ritual yang tidak lagi bersumber dari Al Quran dan Sunah.
Andrew Beatty dalam kajiannya “Adam  and Eve and Vishnu :Syncretism in The Javanese Slametan” mendukung tulisan Geertz. Para Sarjana barat ini menggambarkan Islam di Indonesia adalah Islam Nominal, yaitu Islam yang hanya di dalam pengakuan dan bukan masuk ke dalam keyakinan dan penghayatan (Nur Syam, Guru Besar Sosiologi IAIN Sunan Ampel pada Makalah Islam pesisiran dan Islam pedalaman: Tradisi Islam di tengah perubahan sosial).
Berbagai konsep dan Tradisi yang berkembang di masyarakat yang tidak bersumber dari Al Quran dan As Sunah al.:
1.       Konsep Numerologi, yakni mengkaitkan keyakinan dengan angka, penanggalan dan hari. Contoh penghitungan tanggal kelahiran dikaitkan dengan nasib, tanggal pernikahan, hari naas-hari baik, Jumat Kliwon,dsb.
2.       Tradisi selametan, selametan tujuh bulan kehamilan, ritual setelah kelahiran, bubur merah-bubur putih, mandi kembang, ngarak, syuroan, khaul , dsb.
3.       Upacara sedekah laut, yakni memotong kerbau dan kepalanya di lempar ke laut supaya para nelayan mendapat limpahan berkah. Demikian pula di beberapa daerah para petani melakukan ritual sejenis untuk panen sawah dan tanamannya.
4.       Keyakinan akan benda-benda dan tempat yang dianggap sakti, penangkal  dan  keramat.
5.       Ritual-ritual yang telah berkembang luas, seperti talqin mayat, tahlilan 7 hari, 40 hari, 100 hari dan 1000 hari, dsb.

Firman Allah dalam surat 6 ayat 137 :
“ Dan demikianlah berhala-berhala mereka(setan) menjadikan terasa indah bagi banyak orang musyrik membunuh anak-anak mereka, untuk membinasakan mereka dan mengacaukan agama mereka sendiri. Dan kalau Allah menghendaki niscaya mereka tidak akan mengerjakannya. Biarkanlah mereka bersama apa yang mereka ada-adakan.”
Dan firman-Nya di Surat yang sama ayat 148:
Orang-orang musyrik akan berkata ‘ Jika Allah menghendaki tentu kami tidak akan mempersekutukan-Nya, begitu pula nenek moyang kami (yang kami ikuti), dan kami tidak akan mengharamkan apapun.’ Demikian pula orang-orang sebelum mereka yang telah mendustakan sampai mereka merasakan azab Kami. Katakan : ’Apakah kamu mempunyai penggetahuan yang dapat kamu kemukakan kepada Kami? Yang kamu ikuti hanya persangkaan belaka dan kamu hanya mengira.”
Dan Firman-Nya di ayat 159:
Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agamanya dan mereka menjadi (terpecah) dalam golongan-golongan, sedikitpun bukan tanggung jawabmu atas mereka. Sesungguhnya urusan mereka (terserah) kepada Allah. Kemudian Dia akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka buat.”
Dalam ayat 3 Surat Al- A’Raf Allah memerintahkan untuk hanya mengikuti yang diturunkan dari-Nya dan melarang mengikuti selainnya dan dinyatakan-Nya  amat  sedikit manusia mengambil pelajaran. Manusia sangat sibuk dengan dirinya sendiri, melupakan asal-usulnya dan merasa dirinya sudah benar. Tanpa disadari dia telah setuju dengan tabiat Iblis dan menjadi budaknya.
Iblis telah bersumpah kepada Allah untuk menipu manusia dari berbagai arah dan cara. Kepada orang awam dia menyuruh berbuat keji yang kasat mata, kepada para santri ditimbulkan perasaan bersaing, perselisihan karena ucapan, kedengkian dan permusuhan, kepada yang mengaku guru  dibisikan rasa bangga diri, ujub, riya, gila hormat dan  takabur.
Allah telah memperingatkan manusia agar jangan sampai terpedaya setan. Lindungi diri kita dengan sebaik-baik pakaian yaitu takwa. Pengertian takwa lebih cenderung pada rasa takut, siapapun tidak punya rasa takut pada-Nya bukan tergolong orang yang bertakwa walaupun mengaku ulama.
Takwa hanya akan diraih dengan ilmu. Seluas-luas dan sedalam-dalam ilmu adalah Al Quran. Barang siapa yang sehari semalam tidak menghayati Al Quran maka binasalah ia, ketika kematian datang sedangkan ia menyangka seperti biasanya, hidup masih lama masih banyak waktu. Maka kelak ia ditempatkan pada tempat yang paling rendah yakni dalam neraka yang bergejolak, sedangkan orang-orang bertakwa ditempatkan pada tempat yang paling tinggi.
Menghadapi orang-orang yang merasa benar padahal jauh dari ilmu, kepada orang-orang yang beriman diperintahkan bersabar sebagaimana dicontohkan para Nabi.

Rabu, 08 Juni 2011

HATI YANG BERSIH & HATI YANG HITAM PEKAT

KAJIAN JUZ  7


Dalam awal Juz 7 yakni ayat 83 surat Al Maidah, Allah berfirman :
“Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul, kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran yang telah mereka ketahui seraya berkata ‘ Ya Rabb kami. Kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi’. “
Dalam ayat tersebut Allah menunjukkan kepada kita bagaimana keadaan lahir batin seorang yang beriman ketika mendengarkan Ayat-ayat Allah dibacakan. Ini menuntut kita berfikir secara mendalam untuk memperhatikan diri kita sendiri pada situasi yang sama. Apakah hati kita tersentuh sedemikian rupa sehingga menitikkan air mata ketika mendengar atau membaca ayat-ayat Al Quran?  Atau keadaan batin kita datar-datar saja seperti orang membaca majalah atau koran? Apakah hati kita sedemikian keras dan kesat sementara kita merasa menjadi orang yang beriman? Bukankah itu menunjukkan kita tertipu oleh pengakuan verbal belaka? Sampai kapan kita membiarkan diri terlena oleh jeratan syetan seperti ini?  Apakah kita hanya menunggu membiarkan waktu berlalu hingga kita menjadi tua dan terbaring tak berdaya di sebuah ruang rumah sakit? Bahkan utuk membetulkan selimut  di badan membutuhkan bantuan anak-anak atau kerabat yang datang menjenguk?  Sementara hati telah terbungkus rapat oleh kegelapan kelalaian dan dosa?
Setelah menjelaskan sikap orang yang beriman saat mendengar Al Quran, Allah menyatakan bahwa orang-orang kafir serta mendustakan ayat-ayat-Nya adalah penghuni neraka (S 5 : 86). Konteks orang kafir disini adalah berhubungan dengan ayat sebelumnya, yakni yang tidak bersikap demikian. Yakni orang-orang yang hatinya lalai, tidak tergetar sama sekali dengan ayat-ayat-Nya, bahkan pikirannya selalu sibuk menerawang tidak keruan.
Namun Allah adalah Maha Bijaksana, Maha lembut dan Maha kasih sayang. Dia membimbing kita untuk mendekat kepada-Nya, kembali pada fitrah kita sebagai ciptaan-Nya, hamba-Nya.
Untuk memiliki kejernihan hati yang merupakan wadah keimanan, hendaknya kita perhatikan hal-hal berikut :
1.       Jangan suka mengada-ada hukum halal dan haram, mengharamkan yang halal dan malampaui batas (S 5 :87). Kalau anda berkata “ saya bukan ulama saya  tidak berfatwa” Jawabnya adalah maka jangan ikuti fatwa mereka yang mengaku ulama yang fatwanya bertentangan dengan Al Quran dan As Sunah.
2.       Bersikap waspada dengan makanan dan minuman yang masuk ke tubuh kita dari segi kehalalannya, baik dari zatnya maupun cara mendapatkannya, maupun dari segi kebaikan manfaat dan mudaratnya ( S 5:88).
3.       Jangan suka melanggar sumpah atau janji dengan sengaja. Jika khilaf atas hal ini maka lakukan kafaratnya sebagaimana dijelaskan dalam S. 5 ayat 89.
4.       Jauhi segala bentuk khamar, minuman keras, narkoba dll. Jauhi segala bentuk judi termasuk membeli sesuatu dengan harapan mendapatkan hadiah, undian,dll, melakukan sesuatu transaksi secara spekulasi, untung-untungan. Dan jauhi segala bentuk sesajen untuk berhala yang dikemas dengan dalih dan bentuk apapun. (S 5:90)
Semua hal tersebut di atas jika dilanggar maka akan berdampak pada gelapnya hati tanpa disadari. Hati demikian akan didominasi amarah dan kekalutan yang wujudnya adalah kebencian dan permusuhan. Kalaupun dia sholat, sholatnya sekedar gerakan badan. Dari mulai takbir sampai salam perasaan dan pikirannya disibukan dengan segala hal yang melalaikan, tidak ada kekhusuan sama sekali. Celakalah sholat yang lalai demikian! Tidakah kita sadar telah berdusta kepada Allah? Kita menyatakan Allahu Akbar, tetapi dalam sholatnya saja yang akbar adalah berbagai hal selain Allah. Tidakah kita malu  mengaku beriman?
Hati yang bersih adalah hati yang besar rasa takutnya kepada Allah. Ketika datang kemudahan-kemudahan dan kelapangan ia akan semakin waspada bukannya bangga diri. Ia menyadari siksa-Nya teramat berat. Ia menjaga segala syiar Allah, tidak tertipu dengan segala hal yang secara lahiriah menarik hati namun melihat lebih jauh segala apa yang terlihat.
Nabi Isa As. Adalah salah satu contoh untuk diteladani. Dilahirkan dari seorang wanita yang suci dan tumbuh dewasa dengan segala kesucian. Allah menyatakan dalam S.5 ayat 110 bahwa Nabi Isa telah dikuatkan dengan Ruhul Qudus. Segala doanya dikabulkan Allah. Namun demikian  seluruh doanya hanya untuk kepentingan tegaknya ajaran Allah. Bukan doa yang timbul dari  hati yang gelap yang semua keinginannya demi pemenuhan hawa nafsu belaka.
Firman Allah dalam Surat Al An’am ayat 1 :
Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menjadikan gelap dan terang, namun orang-orang ingkar masih mempersekutan Rabb mereka.”
Ciri-ciri hati yang gelap dapat dijabarkan sbb.:
1.       Berkecamuknya aneka pikiran, kesumpekan perasaan, banyak angan-angan dan keinginan, aneka kebingungan dan terkadang kesedihan. Sangat ingin dan bangga dengan kekayaan, pangkat, kemewahan dan pujian. Karena memang sesungguhnya itulah idaman mereka,  Tuhan mereka.
2.       Meragukan hari kebangkitan. Ukuran ini bukan sekedar pengakuan belaka akan tetapi dari kenyataan perilaku sehari-hari. Diriwayatkan bahwa Sayidina Ali RA saat mau mengambil air wudlu saja seluruh badannya gemetar dan wajahnya pucat karena rasa takutnya akan ancaman Allah dan seringkali tergeletak pingsan  ketika teringat dasyatnya api neraka.  Rasul SAW menyatakan bahwa seandainya orang mengetahui kehebatan neraka akan lebih banyak menangis daripada tertawa. Kalau dalam sehari semalam kita tidak pernah merenung akan persiapan akhirat,  tidak membaca dan menghayati Al Quran, tidak pernah bangun malam untuk mendekakatkan diri dengan sholat malam, melakukan sholat lima waktu sekedar rutinitas tanpa kekhusuan lagi tergesa-gesa, maka kita patut mempertanyakan diri sendiri.
3.       Selalu lalai, tidak menyadari bahwa Allah selalu mengawasinya dan apa yang tergores di hatinya.
4.       Ayat-ayat Allah tidak membekas di hati.  Imam Jafar Shidik menyatakan ancaman Allah terbesar adalah kepada mereka yang membaca Al Quran tetapi tidak mengamalkannya. Terkadang perhatian pembaca Al Quran seperti ini lebih  tertuju pada keindahan suara dan merasa bangga serta pamer, bukan menghayati isi kandungannya.
5.       Tidak pernah belajar dari umat-umat yang telah dibinasakan Allah. Setiap masa begitu banyak generasi datang dan pergi meninggalkan dunia ini. Namun hampir setiap generasi memiliki pola hidup yang sama yakni rakus kesenangan kehidupan dunia, melupakan kematian dan keimanan sekedar bahasa dan eksklusivitas. Hampir dapat dipastikan kita sudah tidak berada di dunia ini pada tanggal 7 Januari 2087, namun karena seluruh perhatian ditujukan pada kesibukan duniawi, kita sudah merasa baik dengan amal ibadah yang asal-asalan dan penuh kelalaian.
6.       Jarang mempergunakan pemikiran dengan sebenarnya. Pemahaman dan ritual ibadah sekedar mengikuti tradisi dari orang tua dan leluhur, malas menggali lebih dalam. Sebagian  cenderung mengkaitkan agama pada hal-hal yang ajaib, kesaktian, benda-benda dan tempat keramat, mengkultuskan orang-orang soleh, dsb.
Mengenai poin terakhir ini hendaknya kita mengevaluasi diri akan hal-hal sbb.:
1.       Adakah kita selalu menghayati tujuan penciptaan langit dan bumi dan segala isinya, untuk apa kita berada di dunia ini dan kemana kita akan pergi?
2.       Allah telah menetapkan atas diri-Nya kasih sayang, Ar Rahman. Apakah diri kita didominasi rasa kasih sayang kepada orang lain dan mahluk Allah lainnya? Atau lebih kuat ego pribadi?
3.       Dalam Agama apakah kita tergolong ragu-ragu? Yakni setengah-setengah, tidak berjuang secara totalitas, kafah. Di akhirat tidak ada golongan tengah-tengah, menjadi akhli surga atau neraka. Sedangkan golongan yang mengaku beriman tetapi tidak terbukti dalam perilaku tergolong orang munafik, ditempatkan di dasar lautan api neraka yang apinya mengupas kulit bahkan kulit kepala.
4.       Apakah telah menjadikan Allah sebagai pelindung? Atau sebaliknya kita merasa nyaman dengan apa yang kita merasa miliki, pekerjaan, harta-benda, keluarga, kerabat,dsb.
5.       Apakah kita tidak merasa takut tergolong orang durhaka? Semakin besar seseorang berilmu semakin besar rasa takutnya kepada Allah. Semakin merasa paling baik dan paling soleh itu menunjukan semakin tebal kebodohan dan kemunafikannya. Rasul SAW pernah bersabda : “ Aku adalah orang yang paling takut dan  paling merasa terancam”.
6.       Apakah tergolong orang yang percaya pada kekuasaan Allah dan janji-Nya?  Jika dijanjikan atasan akan dinaikkan jabatan, gaji dan fasilitas mobil jika  bisa mencapai target tahun ini maka orang akan berjuang sepenuh tenaga dan perhatian. Namun ketika Allah menjanjikan surga yang sedemikian penuh kenikmatan dengan kurun waktu lebih dari satu trilyun tahun bahkan abadi, ia malas dan menunda-nunda hingga hari tua datang dan ajal tiba. Ia tersadar ketika telah berada di dalam kubur yang gelap dimana sekujur tubuh terasa nyeri yang hebat dari ujung kaki, betis sampai ubun-ubun.
7.       Apakah kita tidak menyadari jika telah menggetahui kebenaran dari Al Quran kemudian tetap melalaikannya akan mendapat murka Allah dan azab-Nya yang paling pedih?

Jika hal-hal tersebut tidak pernah kita renungkan hendaknya kita waspada apakah hati kita telah tertutup dengan hijab yang sangat tebal. Diberi peringatan sekeras apapun hati tetap bebal. Dalam surat 6 ayat 22 sd 31 Allah menggambarkan keadaan mereka di akhirat, bahkan jika permohonan akhli neraka untuk diberi kesempatan dikembalikan ke dunia, mereka akan kembali pada perbuatannya yang buruk.
Allah berfirman dalam Surat 6 ayat 32 :
“Dan kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan senda gurau. Sedangkan negeri akhirat itu sungguh lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Apakah kamu tidak mengerti?”
Dalam pergaulan kehidupan sehari-hari hendaknya berhati-hati dalam memilih sahabat karib. Karena eratnya persahabatan, satu sama lain saling menularkan kebiasaan, kesukaan,tabiat, cara pandang hingga pemahaman tanpa disadari. Berhubungan luas dengan berbagai kalangan adalah sangat baik, bahkan dengan kaum Yahudi sekalipun jika hal tersebut berkaitan dengan pekerjaan atau perdagangan yang dijalankan tidak dilarang. Namun untuk menjadikan seseorang sebagai teman bertukar pikiran, tempat saling menasehati akan berbagai permasalahan yang dihadapi haruslah waspada.
Pada situasi saat berkumpul dan bergaul dengan kawan-kawan hendaknya dicamkan peringatan-peringatan Allah sbb.:
1.       Jangan duduk atau berkumpul dengan orang-orang yang memperolok-olok ayat-ayat Allah hingga mereka beralih pada pembicaraan yang lain. Jika terlupa segera tinggalkan saat teringat ( S.5:68).
2.       Beri mereka teladan serta ingatkan dengan cara yang bijak.
3.       Tinggalkan orang-orang yang menjadikan ajaran Allah sebagai permainan dan senda gurau (S.5:70).  Hati-hati saat berdiri di podium atau mimbar memaparkan masalah ajaran Allah namun belum mampu bersikap waspada akan tipuan syetan, maka akan timbul perasaan paling pintar, paling sholeh dan merasa terjamin menjadi akhli surga. Tidak disadari dirinya telah serupa dengan iblis yaitu takabur, merasa lebih mulia dari nabi Adam. Akhirnya tumbuh keinginan mencari popularitas dari umat, berupaya menyenangkan hati mereka dengan guyonan dan  mengharap pemberian.
4.       Selalu bersikap teguh dan  teliti agar tidak terpengaruh hal-hal yang memburamkan hati apalagi sampai membuat kita kembali ke belakang.
Tentang keteguhan hati, Nabi Ibrahim adalah contoh yang sempurna. Ketika telah menemukan kebenaran maka ia tidak tergoyahkan lagi meskipun menghadapi tantangan dan permusuhan sedemikian rupa dari kaumnya. Walaupun  dilemparkan ke api, ia tetap teguh. Maka Allah menjadikan api baginya terasa dingin dan tidak membahayakan sama-sekali. Demikian pula bagi seorang mukmin yang menghadapi panasnya tantangan yang aneka macam ketika memegang teguh ajaran maka Allah akan menjadikan tantangan terasa dingin. Sebagaimana Nabi Ibrahim dan nabi-nabi lainnya, kunci utamanya adalah senantiasa bersabar dan bersyukur.
Bersyukurlah atas berbagai anugerah Allah yang telah dilimpahkan-Nya bagi kita, keindahan tumbuh-tumbuhan yang kita lihat, buah-buahan yang aneka macam bentuk dan rasanya, pagi hari yang  segar mendorong aktifitas dengan penuh semangat, malam hari yang penuh rasa nyaman untuk istirahat , matahari yang cerah, bulan yang teduh, bintang-bintang yang bercahaya, air hujan yang menumbuhkan tumbuhan dan benih-benih yang ditabur para petani sehingga mereka tersenyum cerah. Maka tersenyumlah dan jadilah orang-orang yang pandai bersyukur. Berjuanglah   agar hati bercahaya dan  jagalah jangan sampai kembali gelap apalagi tertutup, sebagaimana Firman Allah dalam akhir Juz 7 yakni Surat 6 ayat 110.:
“ Dan Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti mereka belum pernah beriman kepadanya pada awalnya dan Kami biarkan mereka bergelimang dalam kesesatan.”