KAJIAN JUZ 20
Dalam permulaan Juz 20 yakni surat 27 ayat 60 sd 64 Allah mengajak orang-orang beriman untuk tafakur atau merenungkan secara mendalam hal-hal sbb.:
1. - Bukankah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi, menurunkan air hujan dan dengan air hujan itu ditumbuhkannya kebun-kebun yang berpemandangan indah?
2. Bukankah Allah telah menjadikan Bumi tempat kamu berdiam, dijadikannya sungai-sungai yang mengalir di celah-celahnya, dijadikannya gunung-gunung yang dari jauh terlihat biru dan menjadikan pemisah antara air tawar dan air laut?
3. Bukankah Allah yang mengabulkan orang-orang yang berdoa dan menghilangkan kesusahan? Bukankah Dia yang menjadikan kamu khalifah di muka bumi?
4. Bukankah Allah yang telah memberi tanda-tanda sebagai petunjuk saat kamu dalam kegelapan di daratan dan di lautan dan Dia yang mendatangkan angin yang bertiup lembut sebelum kedatangan rahmat-Nya?
5. Bukankah Allah yang menciptakan semua mahluk sejak awalnya dan mengulanginya kembali? Dan bukankah Dia yang memberikan rezeki dari langit dan dari bumi?
Dari ayat-ayat yang berupa pertanyaan tersebut seakan tersirat pertanyaan-pertanyaan lain seperti ini :
1. Lalu mengapa kamu masih sibuk dengan dirimu sendiri? Hati kamu masih banyak diliputi kemusrikan yaitu banyaknya keinginan dan pemikiran yang bercabang-cabang yang tidak pernah kamu kontrol apakah sesuai dengan kehendak dan perintah-Nya?
2. Lalu mengapa kamu tidak mensyukuri dengan sebenar rasa syukur berbagai karunia Allah yang telah dilimpahkan-Nya kepadamu?
3. Lalu mengapa kamu masih bersikukuh dengan keyakinanmu sendiri bahwa kenikmatan itu adalah jika banyaknya uang dan harta benda serta pujian dari orang-orang? Diuji sedikit saja dengan kesempitan kamu langsung kehilangan iman yaitu merasa susah dan berkeluh kesah? Mengapa keimananmu sekedar bahasa?
4. Lalu mengapa kamu masih bersekongkol dengan setan yakni mengambil tabiat setan sebagai tabiatmu? Pikiran dan perasaanmu masih simpang siur saat solat. Kamu malas dan banyak mencuri kesempatan untuk bermalas-malasan. Kamu begitu semangat saat membicarakan kejelekan orang lain, begitu bangga saat bercaka-cakap tentang harta benda, tempat dan usaha yang kamu miliki , begitu bangga jika mengenal dan dekat dengan orang kaya. Namun kamu mengantuk jika membaca atau mendengar paparan Al Quran dan kamu tidak pernah bangga dengan sebenarnya kepada-Ku? Apakah kamu tidak sadar selalu berdusta kepada-ku?
Kita hendaknya tergugah dan menyadari kita masih tertipu hawa nafu sendiri tetapi selalu menyangka diri baik. Seorang yang benar imannya bersikap keras terhadap diri sendiri dan bersikap lembut terhadap orang lain, bukan sebaliknya.
Seorang yang menyatakan diri beriman akan diuji Allah untuk menyatakan kepada orang itu sendiri untuk mengenal dirinya apakah dia seorang pendusta atau seorang beriman seperti yang dia sangka, karena Allah Maha menggetahui permulaan dan akhirnya.
Ujian-ujian Allah terdiri atas tujuh bentuk. Adakalanya diberikan semua atau sebagian sebagaimana besar-kecilnya tergantung pada kadar keimanan seseorang.
1. Ujian Menghadapi penentangan dan permusuhan. Sudah merupakan sunatullah setiap pembawa kebenaran menghadapi penentangan dan permusuhan dari lingkungan keluarga dan masyarakat. Rasul SAW yang sedemikian halus budi-pekertinya dan sejak muda disukai masyarakat sampai dijuluki Al-Amin, ketika menyampaikan kebenaran, ditentang dan dimusuhi sedemikian hebat. Kepada Beliau Allah berfirman : “ Dan janganlah Engkau bersedih hati terhadap mereka dan janganlah (dadamu) merasa sempit terhadap upaya tipu daya mereka” ( S 27:70).
Menghadapi kondisi ini Allah berfirman : “ Maka bertawakallah kepada Allah, sungguh Engkau berada di atas kebenaran yang nyata.” ( S 27:79)
2. Ujian Perpisahan dengan orang yang dicintai. Ujian ini merupakan ujian terberat dari semua ujian selainnya. Cinta merupakan kondisi terdalam dari batin dan batin lebih unggul dari lahir. Ketika seseorang mengalami kelezatan atau penderitaan batin maka ia bisa mengabaikan kondisi lahir semisal lapar dan haus. Namun bila seseorang lapar atau haus tidak akan berpengaruh kuat pada kondisi batin sebagaimna sebaliknya. Ibu kandung Nabi Musa mengalami keguncangan luar biasa ketika dihadapkan pada pilihan keharusan menghanyutkan bayinya di sungai Nil. Allah menjelaskan kondisi ini dalam surat 28 ayat 10 :
“ Dan hati Ibu Musa menjadi kosong. Sungguh, hampir saja dia menyatakannya (rahasia tentang Musa), seandainya tidak Kami teguhkan hatinya agar dia termasuk orang yang percaya/beriman (pada janji Allah).”
3. Ujian Kesulitan dan kesempitan. Ujian ini umumnya dialami oleh semua orang beriman. Kesulitan berhubungan dengan situasi dan kondisi umum, sedangkan kesempitan berhubungan dengan ketidak-cukupan pemenuhan kebutuhan. Nabi Musa diuji dengan dua hal ini setelah pergi meninggalkan istana ke arah Madyan. Ia lebih mendahulukan menolong memberi minum ternak yang digembalakan dua orang puteri Nabi Syuaib daripada dirinya sendiri yang dahaga. ( S 28: 23-24).
4. Ujian Penglihatan dan Pendengaran. Penglihatan dan pendengaran adalah sarana masuknya informasi ke dalam hati. Ketika kita tidak mengendalikan apa yang dilihat dan didengar maka hati akan terpolusi. Diriwayatkan ketika Nabi Musa berjalan mengikuti dua orang puteri Nabi Syuaib untuk memenuhi undangannya, salah seorang tersingkap betisnya. Nabi Musa segera menghindarkan pandangannya dan meminta dia yang berjalan lebih dulu.
5. Ujian dalam lingkungan pergaulan. Allah menciptakan perbedaan sifat dan karakter di antara manusia sebagai ujian satu sama lain. Untuk ini kita diperintahkan bersabar tidak memaksa orang lain harus sesuai dengan keinginan dan standar kita. Jika melihat kekurangan kawan maka carilah kelebihannya, demikian pula di antara suami-istri. Orang yang paling bersih keimanannya adalah orang yang paling mencintai sahabat-sahabatnya. Dia tidak akan memaafkan dirinya jika tidak mampu memaafkan kesalahan kawannya. Allah berfirman dalam Surat 28 ayat 54 : ”Mereka itulah diberi pahala dua kali disebabkan kesabaran mereka. Dan mereka menolak keburukan dengan kebaikan....”
6. Ujian kenikmatan dan kekayaan. Ujian ini adalah ujian yang paling berbahaya sangat sedikit orang yang bisa lulus dengan nilai baik karena tidak disadari sebagai ujian. Ketika seseorang tidak mampu bertahan dengan ujian kesempitan maka dapat dipastikan ia tidak akan mampu mengendalikan diri saat dibukakan pintu kelapangan dan kemudahan. Dia akan bangga dan sibuk dengan hartanya. Allah menceritakan kisah Qorun yang telah diberi harta yang banyak :
“Dia(Qorun) berkata: ’ Sesungguhnya aku diberi (harta itu) semata-mata karena ilmu yang ada padaku.’ Tidakah dia tahu bahwa Allah telah membinasakan umat-umat yang sebelumnya yang lebih kuat dan lebih banyak mengumpulkan harta? Dan orang-orang
yang berdosa itu tidak perlu ditanya tentang dosa-dosanya.”( S 28:78)
7. Ujian Penangguhan waktu.Terhadap orang-orang ingkar, orang-orang yang menentang dengan keras dan orang-orang berdosa ada kalanya Allah menjadikan mereka semakin makmur dan maju dalam usahanya dan juga diberi umur panjang. Ini merupakan ujian bagi orang-orang yang beriman.
Firman Allah dalam Surat 29 ayat 4 :
“Ataukah orang-orang yang mengerjakan kejahatan itu mengira bahwa mereka akan luput dari (azab) Kami? Sangat buruklah apa yang mereka tetapkan itu!”