Rabu, 08 Juni 2011

HATI YANG BERSIH & HATI YANG HITAM PEKAT

KAJIAN JUZ  7


Dalam awal Juz 7 yakni ayat 83 surat Al Maidah, Allah berfirman :
“Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul, kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran yang telah mereka ketahui seraya berkata ‘ Ya Rabb kami. Kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi’. “
Dalam ayat tersebut Allah menunjukkan kepada kita bagaimana keadaan lahir batin seorang yang beriman ketika mendengarkan Ayat-ayat Allah dibacakan. Ini menuntut kita berfikir secara mendalam untuk memperhatikan diri kita sendiri pada situasi yang sama. Apakah hati kita tersentuh sedemikian rupa sehingga menitikkan air mata ketika mendengar atau membaca ayat-ayat Al Quran?  Atau keadaan batin kita datar-datar saja seperti orang membaca majalah atau koran? Apakah hati kita sedemikian keras dan kesat sementara kita merasa menjadi orang yang beriman? Bukankah itu menunjukkan kita tertipu oleh pengakuan verbal belaka? Sampai kapan kita membiarkan diri terlena oleh jeratan syetan seperti ini?  Apakah kita hanya menunggu membiarkan waktu berlalu hingga kita menjadi tua dan terbaring tak berdaya di sebuah ruang rumah sakit? Bahkan utuk membetulkan selimut  di badan membutuhkan bantuan anak-anak atau kerabat yang datang menjenguk?  Sementara hati telah terbungkus rapat oleh kegelapan kelalaian dan dosa?
Setelah menjelaskan sikap orang yang beriman saat mendengar Al Quran, Allah menyatakan bahwa orang-orang kafir serta mendustakan ayat-ayat-Nya adalah penghuni neraka (S 5 : 86). Konteks orang kafir disini adalah berhubungan dengan ayat sebelumnya, yakni yang tidak bersikap demikian. Yakni orang-orang yang hatinya lalai, tidak tergetar sama sekali dengan ayat-ayat-Nya, bahkan pikirannya selalu sibuk menerawang tidak keruan.
Namun Allah adalah Maha Bijaksana, Maha lembut dan Maha kasih sayang. Dia membimbing kita untuk mendekat kepada-Nya, kembali pada fitrah kita sebagai ciptaan-Nya, hamba-Nya.
Untuk memiliki kejernihan hati yang merupakan wadah keimanan, hendaknya kita perhatikan hal-hal berikut :
1.       Jangan suka mengada-ada hukum halal dan haram, mengharamkan yang halal dan malampaui batas (S 5 :87). Kalau anda berkata “ saya bukan ulama saya  tidak berfatwa” Jawabnya adalah maka jangan ikuti fatwa mereka yang mengaku ulama yang fatwanya bertentangan dengan Al Quran dan As Sunah.
2.       Bersikap waspada dengan makanan dan minuman yang masuk ke tubuh kita dari segi kehalalannya, baik dari zatnya maupun cara mendapatkannya, maupun dari segi kebaikan manfaat dan mudaratnya ( S 5:88).
3.       Jangan suka melanggar sumpah atau janji dengan sengaja. Jika khilaf atas hal ini maka lakukan kafaratnya sebagaimana dijelaskan dalam S. 5 ayat 89.
4.       Jauhi segala bentuk khamar, minuman keras, narkoba dll. Jauhi segala bentuk judi termasuk membeli sesuatu dengan harapan mendapatkan hadiah, undian,dll, melakukan sesuatu transaksi secara spekulasi, untung-untungan. Dan jauhi segala bentuk sesajen untuk berhala yang dikemas dengan dalih dan bentuk apapun. (S 5:90)
Semua hal tersebut di atas jika dilanggar maka akan berdampak pada gelapnya hati tanpa disadari. Hati demikian akan didominasi amarah dan kekalutan yang wujudnya adalah kebencian dan permusuhan. Kalaupun dia sholat, sholatnya sekedar gerakan badan. Dari mulai takbir sampai salam perasaan dan pikirannya disibukan dengan segala hal yang melalaikan, tidak ada kekhusuan sama sekali. Celakalah sholat yang lalai demikian! Tidakah kita sadar telah berdusta kepada Allah? Kita menyatakan Allahu Akbar, tetapi dalam sholatnya saja yang akbar adalah berbagai hal selain Allah. Tidakah kita malu  mengaku beriman?
Hati yang bersih adalah hati yang besar rasa takutnya kepada Allah. Ketika datang kemudahan-kemudahan dan kelapangan ia akan semakin waspada bukannya bangga diri. Ia menyadari siksa-Nya teramat berat. Ia menjaga segala syiar Allah, tidak tertipu dengan segala hal yang secara lahiriah menarik hati namun melihat lebih jauh segala apa yang terlihat.
Nabi Isa As. Adalah salah satu contoh untuk diteladani. Dilahirkan dari seorang wanita yang suci dan tumbuh dewasa dengan segala kesucian. Allah menyatakan dalam S.5 ayat 110 bahwa Nabi Isa telah dikuatkan dengan Ruhul Qudus. Segala doanya dikabulkan Allah. Namun demikian  seluruh doanya hanya untuk kepentingan tegaknya ajaran Allah. Bukan doa yang timbul dari  hati yang gelap yang semua keinginannya demi pemenuhan hawa nafsu belaka.
Firman Allah dalam Surat Al An’am ayat 1 :
Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menjadikan gelap dan terang, namun orang-orang ingkar masih mempersekutan Rabb mereka.”
Ciri-ciri hati yang gelap dapat dijabarkan sbb.:
1.       Berkecamuknya aneka pikiran, kesumpekan perasaan, banyak angan-angan dan keinginan, aneka kebingungan dan terkadang kesedihan. Sangat ingin dan bangga dengan kekayaan, pangkat, kemewahan dan pujian. Karena memang sesungguhnya itulah idaman mereka,  Tuhan mereka.
2.       Meragukan hari kebangkitan. Ukuran ini bukan sekedar pengakuan belaka akan tetapi dari kenyataan perilaku sehari-hari. Diriwayatkan bahwa Sayidina Ali RA saat mau mengambil air wudlu saja seluruh badannya gemetar dan wajahnya pucat karena rasa takutnya akan ancaman Allah dan seringkali tergeletak pingsan  ketika teringat dasyatnya api neraka.  Rasul SAW menyatakan bahwa seandainya orang mengetahui kehebatan neraka akan lebih banyak menangis daripada tertawa. Kalau dalam sehari semalam kita tidak pernah merenung akan persiapan akhirat,  tidak membaca dan menghayati Al Quran, tidak pernah bangun malam untuk mendekakatkan diri dengan sholat malam, melakukan sholat lima waktu sekedar rutinitas tanpa kekhusuan lagi tergesa-gesa, maka kita patut mempertanyakan diri sendiri.
3.       Selalu lalai, tidak menyadari bahwa Allah selalu mengawasinya dan apa yang tergores di hatinya.
4.       Ayat-ayat Allah tidak membekas di hati.  Imam Jafar Shidik menyatakan ancaman Allah terbesar adalah kepada mereka yang membaca Al Quran tetapi tidak mengamalkannya. Terkadang perhatian pembaca Al Quran seperti ini lebih  tertuju pada keindahan suara dan merasa bangga serta pamer, bukan menghayati isi kandungannya.
5.       Tidak pernah belajar dari umat-umat yang telah dibinasakan Allah. Setiap masa begitu banyak generasi datang dan pergi meninggalkan dunia ini. Namun hampir setiap generasi memiliki pola hidup yang sama yakni rakus kesenangan kehidupan dunia, melupakan kematian dan keimanan sekedar bahasa dan eksklusivitas. Hampir dapat dipastikan kita sudah tidak berada di dunia ini pada tanggal 7 Januari 2087, namun karena seluruh perhatian ditujukan pada kesibukan duniawi, kita sudah merasa baik dengan amal ibadah yang asal-asalan dan penuh kelalaian.
6.       Jarang mempergunakan pemikiran dengan sebenarnya. Pemahaman dan ritual ibadah sekedar mengikuti tradisi dari orang tua dan leluhur, malas menggali lebih dalam. Sebagian  cenderung mengkaitkan agama pada hal-hal yang ajaib, kesaktian, benda-benda dan tempat keramat, mengkultuskan orang-orang soleh, dsb.
Mengenai poin terakhir ini hendaknya kita mengevaluasi diri akan hal-hal sbb.:
1.       Adakah kita selalu menghayati tujuan penciptaan langit dan bumi dan segala isinya, untuk apa kita berada di dunia ini dan kemana kita akan pergi?
2.       Allah telah menetapkan atas diri-Nya kasih sayang, Ar Rahman. Apakah diri kita didominasi rasa kasih sayang kepada orang lain dan mahluk Allah lainnya? Atau lebih kuat ego pribadi?
3.       Dalam Agama apakah kita tergolong ragu-ragu? Yakni setengah-setengah, tidak berjuang secara totalitas, kafah. Di akhirat tidak ada golongan tengah-tengah, menjadi akhli surga atau neraka. Sedangkan golongan yang mengaku beriman tetapi tidak terbukti dalam perilaku tergolong orang munafik, ditempatkan di dasar lautan api neraka yang apinya mengupas kulit bahkan kulit kepala.
4.       Apakah telah menjadikan Allah sebagai pelindung? Atau sebaliknya kita merasa nyaman dengan apa yang kita merasa miliki, pekerjaan, harta-benda, keluarga, kerabat,dsb.
5.       Apakah kita tidak merasa takut tergolong orang durhaka? Semakin besar seseorang berilmu semakin besar rasa takutnya kepada Allah. Semakin merasa paling baik dan paling soleh itu menunjukan semakin tebal kebodohan dan kemunafikannya. Rasul SAW pernah bersabda : “ Aku adalah orang yang paling takut dan  paling merasa terancam”.
6.       Apakah tergolong orang yang percaya pada kekuasaan Allah dan janji-Nya?  Jika dijanjikan atasan akan dinaikkan jabatan, gaji dan fasilitas mobil jika  bisa mencapai target tahun ini maka orang akan berjuang sepenuh tenaga dan perhatian. Namun ketika Allah menjanjikan surga yang sedemikian penuh kenikmatan dengan kurun waktu lebih dari satu trilyun tahun bahkan abadi, ia malas dan menunda-nunda hingga hari tua datang dan ajal tiba. Ia tersadar ketika telah berada di dalam kubur yang gelap dimana sekujur tubuh terasa nyeri yang hebat dari ujung kaki, betis sampai ubun-ubun.
7.       Apakah kita tidak menyadari jika telah menggetahui kebenaran dari Al Quran kemudian tetap melalaikannya akan mendapat murka Allah dan azab-Nya yang paling pedih?

Jika hal-hal tersebut tidak pernah kita renungkan hendaknya kita waspada apakah hati kita telah tertutup dengan hijab yang sangat tebal. Diberi peringatan sekeras apapun hati tetap bebal. Dalam surat 6 ayat 22 sd 31 Allah menggambarkan keadaan mereka di akhirat, bahkan jika permohonan akhli neraka untuk diberi kesempatan dikembalikan ke dunia, mereka akan kembali pada perbuatannya yang buruk.
Allah berfirman dalam Surat 6 ayat 32 :
“Dan kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan senda gurau. Sedangkan negeri akhirat itu sungguh lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Apakah kamu tidak mengerti?”
Dalam pergaulan kehidupan sehari-hari hendaknya berhati-hati dalam memilih sahabat karib. Karena eratnya persahabatan, satu sama lain saling menularkan kebiasaan, kesukaan,tabiat, cara pandang hingga pemahaman tanpa disadari. Berhubungan luas dengan berbagai kalangan adalah sangat baik, bahkan dengan kaum Yahudi sekalipun jika hal tersebut berkaitan dengan pekerjaan atau perdagangan yang dijalankan tidak dilarang. Namun untuk menjadikan seseorang sebagai teman bertukar pikiran, tempat saling menasehati akan berbagai permasalahan yang dihadapi haruslah waspada.
Pada situasi saat berkumpul dan bergaul dengan kawan-kawan hendaknya dicamkan peringatan-peringatan Allah sbb.:
1.       Jangan duduk atau berkumpul dengan orang-orang yang memperolok-olok ayat-ayat Allah hingga mereka beralih pada pembicaraan yang lain. Jika terlupa segera tinggalkan saat teringat ( S.5:68).
2.       Beri mereka teladan serta ingatkan dengan cara yang bijak.
3.       Tinggalkan orang-orang yang menjadikan ajaran Allah sebagai permainan dan senda gurau (S.5:70).  Hati-hati saat berdiri di podium atau mimbar memaparkan masalah ajaran Allah namun belum mampu bersikap waspada akan tipuan syetan, maka akan timbul perasaan paling pintar, paling sholeh dan merasa terjamin menjadi akhli surga. Tidak disadari dirinya telah serupa dengan iblis yaitu takabur, merasa lebih mulia dari nabi Adam. Akhirnya tumbuh keinginan mencari popularitas dari umat, berupaya menyenangkan hati mereka dengan guyonan dan  mengharap pemberian.
4.       Selalu bersikap teguh dan  teliti agar tidak terpengaruh hal-hal yang memburamkan hati apalagi sampai membuat kita kembali ke belakang.
Tentang keteguhan hati, Nabi Ibrahim adalah contoh yang sempurna. Ketika telah menemukan kebenaran maka ia tidak tergoyahkan lagi meskipun menghadapi tantangan dan permusuhan sedemikian rupa dari kaumnya. Walaupun  dilemparkan ke api, ia tetap teguh. Maka Allah menjadikan api baginya terasa dingin dan tidak membahayakan sama-sekali. Demikian pula bagi seorang mukmin yang menghadapi panasnya tantangan yang aneka macam ketika memegang teguh ajaran maka Allah akan menjadikan tantangan terasa dingin. Sebagaimana Nabi Ibrahim dan nabi-nabi lainnya, kunci utamanya adalah senantiasa bersabar dan bersyukur.
Bersyukurlah atas berbagai anugerah Allah yang telah dilimpahkan-Nya bagi kita, keindahan tumbuh-tumbuhan yang kita lihat, buah-buahan yang aneka macam bentuk dan rasanya, pagi hari yang  segar mendorong aktifitas dengan penuh semangat, malam hari yang penuh rasa nyaman untuk istirahat , matahari yang cerah, bulan yang teduh, bintang-bintang yang bercahaya, air hujan yang menumbuhkan tumbuhan dan benih-benih yang ditabur para petani sehingga mereka tersenyum cerah. Maka tersenyumlah dan jadilah orang-orang yang pandai bersyukur. Berjuanglah   agar hati bercahaya dan  jagalah jangan sampai kembali gelap apalagi tertutup, sebagaimana Firman Allah dalam akhir Juz 7 yakni Surat 6 ayat 110.:
“ Dan Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti mereka belum pernah beriman kepadanya pada awalnya dan Kami biarkan mereka bergelimang dalam kesesatan.”




Tidak ada komentar:

Posting Komentar