KAJIAN JUZ 9
Firman Allah dalam Surat 7 ayat 88:
“Pemuka-pemuka yang menyombongkan diri dari kaum Syuaib berkata: ‘Wahai Syuaib! Pasti kami usir engkau bersama orang-orang yang beriman dari negeri kami kecuali engkau kembali kepada agama kami.’ Syuaib berkata: ‘ Apakah (kamu akan mengusir kami) kendatipun kami tidak suka?”
Para Rasul berjuang sepenuhnya untuk menegakkan ajaran Allah. Mereka tidak pernah gentar menghadapi ujian dan tantangan dari umat. Nabi Syuaib ditolak kaumnya, dimusuhi dan diusir. Nabi Musa menghadapi tantangan dari seorang penguasa yang lalim, Firaun, yang merasa berkuasa dengan kebesaran kerajaan dan harta-benda yang dimilikinya. Namun akhirnya para Rasul yang menang dan kaum yang mendustakan dibinasakan.
Kaum Nabi Musa, Bani Israil, adalah kaum yang lemah keimanannya. Setelah diselamatkan Allah menyeberangi laut merah mereka terpikat oleh keyakinan suatu kaum yang tetap memiliki berhala. Begitu pula saat Nabi Musa meninggalkan mereka untuk munajat kepada Allah beberapa waktu, Bani Israil membuat patung anak sapi dari emas dan menyembahnya, hanya sebagian kecil yang tetap berpegang pada ajaran nabi Musa. Juga pembangkangan mereka untuk tinggal di Baitul Maqdis dan pelanggaran aturan hari Sabat.
Kisah kaum Bani Israil ini adalah sebagai alat ukur bagi keimanan kita. Seberapa teguh seorang yang mengaku beriman memegang ajaran Allah? Apakah saat dihadapkan pada tantangan kondisi iman begitu cepat goyah? Ataukah kuat sebagaimana para Rasul?
Manusia sesuai fitrahnya pada kedalaman hatinya mengakui keesaan Allah. Namun dikarenakan lebih mengutamakan keinginan hawa nafsu maka hijab tebal menutupi pandangan batinnya. Pengakuan imannya tidak selaras dan mudah berpaling. Allah mengibaratkan orang yang berpaling melepaskan ajaran Al Quran yang diterimanya sebagai anjing(S 7:175-176).
Ciri orang yang beriman, yaitu yang benar dan teguh keimanannya sbb.:
1. Pemaaf, memberi teladan pada yang makruf namun tidak bersikeras menasehati orang yang bodoh( S 7:199).
2. Saat ada perubahan kondisi hati pada penurunan iman, segera memohon ampun kepada Allah dan melakukan introspeksi ( 7:201)
3. Tidak pernah lalai akan kehadiran Allah, apalagi disaat awal matahari terbit dan menjelang tengelamnya, namun tidak dengan dzikir mengeraskan suara(7:205).
4. Tidak pernah malas melakukan kebaikan-kebaikan sesuai perintah-Nya, senantiasa menjaga kesucian hati dan konsisten pada satu tujuan yakni pengabdian pada-Nya. (7:206)
5. Senantiasa memperbaiki dan menjaga hubungan baik dengan sesama mukmin (8:1)
6. Bila mendengar nama Allah bergetar hatinya, bertambah kuat imannya saat mendengar ayat-ayat Allah dan bertawakal kepada-Nya(8:2).
7. Merealisasikan solatnya dalam perilaku sehari-hari dan mampu memberi manfaat berupa infak(8:3)
Terhadap orang-orang yang benar imannya inilah Allah memerintahkan untuk pergi berjihad di jalan-Nya. Firman-Nya dalam S 8 ayat 5:
“Sebagaimana Rabbmu menyuruhmu pergi dari rumahmu dengan kebenaran, padahal sebagian orang beriman tidak menyukainya.”
Konsep jihad tidaklah sempit dalam pengertian peperangan fisik. Sebagaimana hadis Rasul SAW yang terkenal yang diucapkan beliau sepulang dari perang badar bahwa jihad yang paling besar adalah jihad memerangi hawa nafsu sendiri.
Hawa nafsu cenderung pada kelezatan, kesenangan, kemudahan dan kelapangan. Ia tidak suka bila harus menanggung kesulitan dan ujian kesempitan. Contoh sederhana adalah ia tidak suka mengurangi tidur untuk bangun di tengah malam, kalaupun dipaksa melakukannya ia beranggapan harus diganti dengan tidur pada pagi atau siang harinya karena sifatnya hawa nafsu cenderung pada kemalasan. Bila dihadapkan pada situasi yang sulit semisal permusuhan sengit dia akan merasa takut dan gentar.
Firman Allah dalam S 8 ayat 15 :
“ Hai orang-orang yang beriman, bila bertemu dengan orang-orang kafir yang sedang menyerangmu, maka janganlah kamu membelakangi mereka (mundur).”
Allah mengingatkan bahwa Allah membimbing manusia untuk memiliki kehidupan sesungguhnya (8:24) jangan terpukau pada harta dan anak yang sebenarnya mereka itu adalah cobaan. Untuk memiliki kekuatan iman jangan solat asal-asalan yang tidak melahirkan apa-apa, apalagi keteguhan.
Firman Allah dalam S 8 ayat 35:
“Dan solat mereka di sekitar Baitullah itu tidak lain hanyalah siulan dan tepuk tangan. Maka rasakanlah azab disebabkan keingkaranmu.”
Salah satu azab Allah di dunia adalah kehidupan yang serba salah. Yaitu bergelimang dalam kegalauan dan kebingungan. Maka taatilah perintah Allah dan Rasul-Nya. Allah telah memerintahkan untuk berjuang hingga tidak ada lagi fitnah dan ajaran Ad-Din hanya bagi Allah semata serta jadikanlah Allah sebagai pelindung karena Dialah dan bukan selain Dia, sebaik-baik penolong.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar