Senin, 13 Juni 2011

27 BENTUK KESADARAN UNTUK MERAIH KEUTAMAAN

KAJIAN JUZ 27
(Menyambut Isra Mi'Raj Tgl.27 Rajab 1432 H)

Al Quran sebagaimana kita ketahui memiliki tujuh fungsi. Yang pertama saat kita membaca Al Quran hendaknya terbentuk suatu Kesadaran (Dzikrun) sehingga menjadikannya Petunjuk dalam kehidupan (Hudan) dan Al Quran telah menjadikan petunjuk itu Gamblang (Bayan) sehingga kita mampu memfungsikannya sebagai penyembuh penyakit yang ada dalam dada (Syifa). Setelah hati bersih maka Al Quran menjadi penerang (Nur) yang menjadikan kita memiliki penggetahuan (Ilmu) dan mampu diwujudkan dalam kehidupan sehingga jelas berbeda dengan yang batil (Furqon).

Jika seseorang dalam tujuh hari tujuh malam  memfungsikan tujuh fungsi Al Quran tersebut, terutama tujuh ayat Ummul Quran, Al Fatihah, maka ia akan mampu solat penuh kekhusuan. Ketika ia berdoa dalam qolbu saat sujud, yaitu sujud yang dibarengi tujuh anggota badan rukun sujud ; dua ujung telapak kaki, dua lulut, dua telapak tangan dan kening, maka maka seluruh mahluk Allah yang berada di tujuh lapis langit dan tujuh lapis bumi akan ikut serta mengaminkan.

Juz 27 terdiri dari 7 Surat dimulai dari Surat 51 ayat 31 sampai dengan Surat 57 ayat terakhir atau ayat 29. Dibuka dengan kisah diazabnya kaum-kaum yang mendustakan para Rasul dengan berbagai bencana yang membinasakan dan diakhiri dengan ayat-ayat yang menyiratkan keharusan kita berfikir bahwa Allah telah menciptakan Besi yang kuat maka hendaknya kita tergugah untuk memiliki kekuatan dan keteguhan untuk meneggakan ajaran-Nya.

Dari Juz tersebut dapat ditarik 27 bentuk kesadaran sbb.:
1.       Hendaknya kita melakukan introspeksi apakah  ada keangkuhan dalam diri kita  yang tidak disadari ? Keangkuhan adalah merasa benar dan tersinggung jika diberitahukan kebenaran, walaupun solatnya dari takbir sampai salam tidak disertai hati dan waktunya banyak sia-sia. Keangkuhan yang tidak disadari adalah kita tetap seperti itu tanpa tidak perduli. Kaum Tsamud berlaku angkuh dengan Perintah Allah maka mereka disambar petir yang membinasakan(S 51:44).

2.       Apakah peringatan-peringatan Allah telah membuka kesadaran? Jika tidak maka semua ayat-ayat Allah tidak akan bermanfaat  ( S.51:55). Hindari menjadikan Islam atau Majelis atau kelompok jamaah  suatu yang Eksklusif atau Inklusif. Kita merasa istimewa dan bangga dengan Islam atau kelompok jamaah atau imam kita. Apakah anda meng-akbarkan Allah atau membesarkan hawa nafsu sendiri?  Tipuan setan itu halus. Kita rame-rame solat tarawih pada bulan Ramadhan dengan penuh kegembiraan, namun solatnya kebut-kebutan sama sekali jauh dari penghayatan. Menjelang Idul Fitri semua sibuk dengan memikirkan makanan lebaran dan baju baru dan segala barang baru. Apakah kita memikirkan sejauh mana saum kita telah membakar hawa nafsu? Apakah benar kita kembali fitri? Atau sekarang malah gembira karena tidak ada lagi  yang mengekang nafsu? Apakah kita menang atau setan yang tetap menang? Jangan-jangan setan tertawa terpingkal-pingkal melihat kebodohan manusia.


3.       Allah berfirman : “ Aku tidak menciptakan Jin dan Manusia melainkan untuk mengabi kepada-Ku ( S 51:56)”. Apakah kita mengabdi kepada-Nya atau pada hanya keinginan sendiri? Apakah kita saat terbangun dari tidur ingat Dia dan perintah-perintah-Nya? Atau langsung ingat berbagai kesibukan atau kebutuhan. Sehari penuh kita berjuang untuk kepentingan karir, keluarga , kebutuhan, target, dsb. Mengapa tidak menyandarkan semua aktifitas pada perintah-Nya? Allah tidak menyuruh kita sehari-semalam wirid di mesjid atau mushola dan mengabaikan kewajiban pada keluarga. Seorang mukmin itu harus memberi manfaat kepada orang lain bahkan Rasul itu Rahmatan lil alamin.

4.       Allah berfirman : “ Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada dalam surga dan kenikmatan (S 52:17).” Kita teliti diri sendiri apakah kita telah memiliki ketenangan dan kenyamanan batin atau masih dalam kegalauan dan aneka kebingungan.


5.       Al Quran S 52 ayat 28 ; “ Sesungguhnya kami mengabdi pada-nya sejak dahulu. Dialah Yang Melimpahkan kebaikan, Maha Penyayang”  Dari ayat ini kita tafakur sejauh mana kita telah banyak melakukan kebaikan dan menyayangi  orang dan mahluk lain?

6.       Al Quran S S 53 ayat 3 : “ Dan tidaklah yang dicapkannya itu dari hawa nafsu”.  Apakah kita sudah mampu mengendalikan lisan kita atau malah asal bicara dan banyak ngobrol sia-sia apalagi berdosa seperti membicarakan kejelekan orang lain?


7.       Firman Allah : “ Atau apakah manusia akan mendapat segala yang diinginkannya?” (S 53;24). Semua yang ada di langit dan di bumi itu milik Allah, jika ada suatu keinginan kita teliti apakah sesuai dengan perintah dan tidak melanggar larangan-Nya?

8.       Apakah kita telah menjadikan ilmu sebagai imamnya amal? ( S 53:28). Semua aktifitas manusia dalam segala aspek seperti cara bekerja, cara berumah-tangga, cara bermasyarakat, cara sholat, cara makan, cara minum sampai cara ke kamar mandi telah dibimbing oleh Allah dan Rasul-Nya. Hendaknya kita gali.


9.       Firman Allah : “ Maka tinggalkanlah orang yang berpaling dari peringatan Kami dan dia hanya mengingini kehidupan dunia?” Apakah jiwa kita masih tetap seperti ini?

10.   “ Dan sungguh Kami telah mudahkan Al Quran untuk peringatan, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?”( S 54:17) Apakah kita telah menjadikan ayat-ayat Al Quran sebagai renungan dan pemikiran atau membacanya sambil lalu?


11.   “ Sungguh orang yang berdosa berada dalam kesesatan ( di dunia) dan akan berada dalam neraka.” (S 54:47) Apakah hati kita masih kesat ?

12.   “ Dan segala sesuatu yang mereka perbuat tercatat dalam buku-buku catatan” ( S 54:52). Apakah kita selalu mencatat yang telah dikerjakan dan membuat perencanaan yang akan dikerjakan? Seorang mukmin itu waktunya teroganisir dengan baik. Hadis Rasul SAW yang terkenal bahwa hari ini harus lebih baik dari hari kemarin, jika sama berarti rugi, jika lebih jelek maka celaka.


13.   “ Dan tegakkanlah keseimbangan itu dan janganlah kamu mengurangi keseimbangan itu” ( S 55:9) Apakah kita memiliki keseimbangan antara siang dan malam, dunia dan akhirat, diri kita dengan keluarga, keluarga dan masyarakat? Jangan sekali-kali kita merusak Ekosistem, yaitu keseimbangan di alam semesta.

14.   “Semua yang ada di bumi akan binasa” ( S 55:26) Bagaimana kalau besok pagi kita dipanggil-Nya?  Atau kita  merasa hidup masih lama masih banyak waktu untuk bertobat dan persiapan mati?


15.   “Dan orang-orang yang berdosa dikenal dengan tanda-tandanya lalu direngut ubun-ubun dan kakinya” ( S 55: 41) Apakah kita berwajah muram gelap atau berwajah cerah?

16.   “ Dan bagi siapa yang takut menghadap Rabbnya ada dua surga” (S 55:46) Apakah kita tergolong orang yang takut atau merasa terjamin jadi akhli surga?


17.   “Terjadinya (kiamat) tidak dapat didustakan” ( S 56:2) Apakah sebatas pengakuan percaya akan hari kiamat atau selalu mempersiapkan diri ?

18.   “Dan kamu menjadi tiga golongan” ( S 56:7) Menurut penilaian diri sendiri secara jujur tergolong yang manakah saat ini? Akhli surga atau akhli neraka? Mana buktinya?


19.   “Sesungguhnya mereka ( Akhli Neraka) dahulu hidup bermewah-mewah” ( S 56:45) Apakah diri kita masih sama seperti orang kafir yaitu selalu  mengidamkan dan bangga dengan kemewahan?

20.   “Pernahkah kamu memperhatikan air yang kamu minum?” ( S 56:68) Atau asal minum?


21.   “Maka pernahkah memperhatikan api yang kamu nyalakan?” ( S 56:71) Atau tidak pernah berfikir?

22.   “Tidak ada yang menyentuhnya ( Al Quran) selain hamba-hamba yang disucikan” ( S 56:79). Apakah diri kita sudah bersih dari tabiat setan?  Sebab setan tidak akan mampu mewujudkan Al Quran dalam dirinya.


23.   “Dan kamu menjadikan rezeki yang kamu terima ( Al Quran) justru untuk mendustakan?” ( S 56:82). Malah kamu memilih kesenangan dunia ini dan melalaikan Al Quran!

24.   “......Dan Dia bersama kamu dimana saja kamu berada. Dan Allah Maha melihat Yang kamu kerjakan” ( S 57:4) Apakah kita selalu sadar ini atau selalu lalai?


25.   “Miliknyalah kerajaan langit dan bumi. Dan hanya kepada Allah dikembalikan segala urusan” ( S57:5) Apakah kita masih terlena dengan urusan sendiri?

26.   “....Dan Dia telah mengambil janjimu, jika kamu orang beriman” (S 57:8). Apakah kita telah memenuhi janji-janji kepada Allah seperti takbir kita Allahu Akbar bahwa Allah-lah yang besar bukan hawa nafsu atau hanya sekedar ucapan bacaan?


27.   Allah berfirman dalam Surat Al Hadid ayat 16 : “ Belum tibakah waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk secara khusu mengingat Allah dan mematuhi kebenaran yang telah diwahyukan. Dan janganlah mereka seperti orang-orang yang telah menerima kitab sebelum itu. Kemudian mereka melalui masa yang panjang sehingga hati menjadi keras. Dan banyak diantara mereka menjadi orang-orang fasik”

Kamis, 09 Juni 2011

TUJUH BENTUK UJIAN KEIMANAN


KAJIAN JUZ 20


Dalam permulaan Juz 20 yakni surat 27 ayat 60 sd 64 Allah mengajak orang-orang beriman untuk tafakur atau merenungkan secara mendalam hal-hal sbb.:

1.      - Bukankah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi, menurunkan air hujan dan dengan air hujan itu   ditumbuhkannya kebun-kebun yang berpemandangan indah?
2.       Bukankah Allah telah menjadikan Bumi tempat kamu berdiam, dijadikannya sungai-sungai yang mengalir di celah-celahnya, dijadikannya gunung-gunung yang dari jauh terlihat biru dan menjadikan pemisah antara air tawar dan air laut?
3.       Bukankah Allah yang mengabulkan orang-orang yang berdoa  dan menghilangkan kesusahan? Bukankah Dia yang menjadikan kamu khalifah di muka bumi?
4.       Bukankah Allah yang telah memberi tanda-tanda sebagai petunjuk saat kamu dalam kegelapan di daratan dan di lautan dan Dia yang mendatangkan angin yang bertiup lembut sebelum kedatangan rahmat-Nya?
5.       Bukankah Allah yang menciptakan semua mahluk sejak awalnya dan mengulanginya kembali? Dan bukankah Dia yang memberikan rezeki dari langit dan dari bumi?

Dari ayat-ayat yang berupa pertanyaan tersebut seakan tersirat pertanyaan-pertanyaan lain seperti ini :

1.       Lalu mengapa kamu masih sibuk dengan dirimu sendiri? Hati kamu masih banyak diliputi kemusrikan yaitu banyaknya keinginan dan pemikiran yang bercabang-cabang yang tidak pernah kamu kontrol apakah sesuai dengan kehendak dan perintah-Nya?
2.       Lalu mengapa kamu tidak mensyukuri dengan sebenar rasa syukur berbagai karunia Allah yang telah dilimpahkan-Nya kepadamu?
3.       Lalu mengapa kamu masih bersikukuh dengan keyakinanmu sendiri bahwa kenikmatan itu adalah jika banyaknya uang dan harta benda serta pujian dari orang-orang? Diuji sedikit saja dengan kesempitan kamu langsung kehilangan iman yaitu merasa susah dan berkeluh kesah? Mengapa keimananmu sekedar bahasa?
4.       Lalu mengapa kamu masih bersekongkol dengan setan yakni mengambil tabiat setan sebagai tabiatmu? Pikiran dan perasaanmu masih simpang siur saat solat. Kamu malas dan banyak mencuri kesempatan untuk bermalas-malasan. Kamu begitu semangat saat membicarakan kejelekan orang lain, begitu bangga saat bercaka-cakap tentang harta benda, tempat  dan usaha yang kamu miliki , begitu bangga jika mengenal dan dekat dengan orang kaya. Namun kamu mengantuk jika membaca atau mendengar paparan Al Quran dan kamu tidak pernah bangga dengan sebenarnya kepada-Ku? Apakah kamu tidak sadar selalu berdusta kepada-ku?

Kita hendaknya tergugah dan menyadari kita masih tertipu hawa nafu sendiri tetapi selalu menyangka diri baik. Seorang yang benar imannya  bersikap keras terhadap diri sendiri dan bersikap lembut terhadap orang lain, bukan sebaliknya.
Seorang yang menyatakan diri beriman akan diuji Allah untuk menyatakan kepada orang itu sendiri untuk mengenal dirinya apakah dia seorang pendusta atau seorang beriman seperti yang dia sangka, karena Allah Maha menggetahui permulaan dan akhirnya.
Ujian-ujian Allah terdiri atas tujuh bentuk. Adakalanya diberikan semua atau sebagian sebagaimana besar-kecilnya tergantung pada kadar keimanan seseorang.

1.       Ujian Menghadapi penentangan dan permusuhan. Sudah merupakan sunatullah setiap pembawa kebenaran menghadapi penentangan dan permusuhan dari lingkungan keluarga dan masyarakat. Rasul SAW yang sedemikian halus budi-pekertinya dan sejak muda disukai masyarakat sampai dijuluki Al-Amin, ketika menyampaikan kebenaran, ditentang dan dimusuhi sedemikian hebat. Kepada Beliau Allah berfirman : “ Dan janganlah Engkau bersedih hati terhadap mereka dan janganlah (dadamu) merasa sempit terhadap upaya tipu daya mereka” ( S 27:70).
Menghadapi kondisi ini Allah berfirman : “ Maka bertawakallah kepada Allah, sungguh Engkau berada di atas kebenaran yang nyata.” ( S 27:79)

2.       Ujian Perpisahan dengan orang yang dicintai. Ujian ini merupakan ujian terberat dari semua ujian selainnya. Cinta merupakan kondisi terdalam dari batin dan batin lebih unggul dari lahir. Ketika seseorang mengalami kelezatan atau penderitaan batin maka ia bisa mengabaikan kondisi lahir semisal lapar dan haus. Namun bila seseorang lapar atau haus tidak akan berpengaruh kuat pada kondisi batin sebagaimna sebaliknya. Ibu kandung Nabi Musa mengalami keguncangan luar biasa ketika dihadapkan pada pilihan keharusan menghanyutkan bayinya di sungai Nil. Allah menjelaskan kondisi ini dalam surat 28 ayat 10 :
“ Dan hati Ibu Musa menjadi kosong. Sungguh, hampir saja dia menyatakannya (rahasia tentang Musa), seandainya tidak Kami teguhkan hatinya agar dia termasuk orang yang percaya/beriman (pada janji Allah).”

3.       Ujian Kesulitan dan kesempitan. Ujian ini umumnya dialami oleh semua orang beriman. Kesulitan berhubungan dengan situasi dan kondisi umum, sedangkan kesempitan berhubungan dengan ketidak-cukupan pemenuhan kebutuhan. Nabi Musa diuji dengan dua hal ini setelah pergi meninggalkan istana ke arah Madyan. Ia lebih mendahulukan menolong memberi minum ternak yang digembalakan dua orang puteri Nabi Syuaib daripada dirinya sendiri yang dahaga. ( S 28: 23-24).

4.       Ujian Penglihatan dan Pendengaran. Penglihatan dan pendengaran adalah sarana masuknya informasi ke dalam hati. Ketika kita tidak mengendalikan apa yang dilihat dan didengar maka hati akan terpolusi. Diriwayatkan ketika Nabi Musa berjalan mengikuti dua orang puteri Nabi Syuaib untuk memenuhi undangannya, salah seorang tersingkap betisnya. Nabi Musa segera menghindarkan pandangannya dan meminta dia yang berjalan lebih dulu.

5.       Ujian dalam lingkungan pergaulan.  Allah menciptakan perbedaan sifat dan karakter di antara manusia sebagai ujian satu sama lain. Untuk ini kita diperintahkan bersabar tidak  memaksa orang lain harus sesuai dengan keinginan dan standar kita. Jika melihat kekurangan kawan maka carilah kelebihannya, demikian pula di antara suami-istri. Orang yang paling bersih keimanannya adalah orang yang paling mencintai sahabat-sahabatnya. Dia tidak akan memaafkan dirinya jika tidak mampu memaafkan kesalahan kawannya. Allah berfirman dalam Surat 28 ayat 54 : ”Mereka itulah diberi pahala dua kali disebabkan kesabaran mereka. Dan mereka menolak keburukan dengan kebaikan....”

6.       Ujian kenikmatan dan kekayaan.  Ujian ini adalah ujian yang paling berbahaya sangat sedikit orang yang bisa lulus dengan nilai baik karena tidak disadari sebagai ujian. Ketika seseorang tidak mampu bertahan dengan ujian kesempitan maka dapat dipastikan ia tidak akan mampu mengendalikan diri saat dibukakan pintu kelapangan dan kemudahan. Dia akan bangga dan sibuk dengan hartanya. Allah menceritakan kisah Qorun yang telah diberi harta yang banyak :
“Dia(Qorun) berkata: ’ Sesungguhnya aku diberi (harta itu) semata-mata karena ilmu yang ada padaku.’ Tidakah dia tahu bahwa Allah telah membinasakan umat-umat yang sebelumnya yang lebih kuat dan lebih banyak mengumpulkan harta? Dan orang-orang
yang berdosa itu tidak perlu ditanya tentang dosa-dosanya.”( S 28:78)

7.       Ujian Penangguhan waktu.Terhadap orang-orang ingkar, orang-orang yang menentang dengan keras dan orang-orang berdosa ada kalanya Allah menjadikan mereka semakin makmur dan maju dalam usahanya dan juga diberi umur panjang. Ini merupakan ujian bagi orang-orang yang beriman.
Firman Allah dalam Surat 29 ayat 4 :
“Ataukah orang-orang yang mengerjakan kejahatan itu mengira bahwa mereka akan luput dari (azab) Kami? Sangat buruklah apa yang mereka tetapkan itu!”





TANTANGAN DALAM MENEGAKKAN AJARAN


KAJIAN JUZ 9

Firman Allah dalam Surat 7 ayat 88:
“Pemuka-pemuka yang menyombongkan diri dari kaum Syuaib berkata: ‘Wahai Syuaib! Pasti kami usir engkau bersama orang-orang yang beriman dari negeri kami kecuali engkau kembali kepada agama kami.’ Syuaib berkata: ‘ Apakah (kamu akan mengusir kami) kendatipun kami tidak suka?
Para Rasul berjuang sepenuhnya untuk menegakkan ajaran Allah. Mereka tidak pernah gentar menghadapi ujian dan tantangan dari umat. Nabi Syuaib ditolak kaumnya, dimusuhi dan diusir. Nabi Musa menghadapi tantangan dari seorang penguasa yang lalim, Firaun, yang merasa  berkuasa dengan kebesaran kerajaan dan harta-benda yang dimilikinya. Namun akhirnya para Rasul yang menang dan kaum yang mendustakan dibinasakan.
Kaum Nabi Musa, Bani Israil, adalah kaum yang lemah keimanannya. Setelah diselamatkan Allah menyeberangi laut merah mereka terpikat oleh keyakinan suatu kaum yang tetap memiliki berhala. Begitu pula saat Nabi Musa meninggalkan mereka untuk munajat kepada Allah beberapa waktu, Bani Israil membuat patung anak sapi dari emas dan menyembahnya, hanya sebagian kecil yang tetap berpegang pada ajaran nabi Musa. Juga pembangkangan mereka untuk tinggal di Baitul Maqdis dan pelanggaran aturan hari Sabat.
Kisah kaum Bani Israil ini adalah sebagai alat ukur bagi keimanan kita. Seberapa teguh seorang yang mengaku beriman memegang ajaran Allah? Apakah saat dihadapkan pada tantangan kondisi iman begitu cepat goyah? Ataukah kuat sebagaimana para Rasul?
Manusia sesuai fitrahnya pada kedalaman hatinya mengakui keesaan Allah. Namun dikarenakan lebih mengutamakan keinginan hawa nafsu maka hijab tebal menutupi  pandangan batinnya. Pengakuan imannya tidak selaras dan mudah berpaling. Allah mengibaratkan orang yang berpaling melepaskan ajaran Al Quran yang diterimanya sebagai anjing(S 7:175-176).
Ciri orang yang beriman, yaitu yang benar dan teguh keimanannya  sbb.:
1.       Pemaaf, memberi teladan pada yang makruf namun tidak bersikeras menasehati orang yang bodoh( S 7:199).
2.       Saat ada perubahan kondisi hati pada penurunan iman, segera memohon ampun kepada Allah dan melakukan introspeksi ( 7:201)
3.       Tidak pernah lalai akan kehadiran Allah, apalagi disaat awal matahari terbit dan menjelang tengelamnya, namun tidak dengan dzikir mengeraskan suara(7:205).
4.       Tidak pernah malas melakukan kebaikan-kebaikan sesuai perintah-Nya, senantiasa menjaga kesucian hati dan konsisten pada satu  tujuan yakni pengabdian pada-Nya. (7:206)
5.       Senantiasa memperbaiki dan menjaga hubungan baik dengan sesama mukmin (8:1)
6.       Bila mendengar nama Allah bergetar hatinya, bertambah kuat imannya saat mendengar ayat-ayat Allah dan bertawakal kepada-Nya(8:2).
7.       Merealisasikan solatnya dalam perilaku sehari-hari dan mampu memberi manfaat berupa infak(8:3)

Terhadap orang-orang yang benar imannya inilah Allah memerintahkan untuk pergi berjihad di jalan-Nya. Firman-Nya dalam S 8 ayat 5:
“Sebagaimana Rabbmu menyuruhmu pergi dari rumahmu dengan kebenaran, padahal sebagian orang beriman tidak menyukainya.”
Konsep jihad tidaklah sempit dalam pengertian peperangan fisik. Sebagaimana hadis Rasul SAW yang terkenal yang diucapkan beliau sepulang dari perang badar bahwa jihad yang paling besar adalah jihad memerangi hawa nafsu sendiri.
Hawa nafsu cenderung pada kelezatan, kesenangan, kemudahan dan kelapangan. Ia tidak suka bila harus menanggung kesulitan dan ujian kesempitan. Contoh sederhana adalah ia tidak suka mengurangi tidur untuk bangun di tengah malam, kalaupun dipaksa melakukannya ia beranggapan harus diganti dengan tidur pada pagi atau siang harinya karena sifatnya hawa nafsu cenderung pada kemalasan. Bila dihadapkan pada situasi yang sulit semisal permusuhan sengit dia akan merasa takut dan gentar.
Firman Allah dalam S 8 ayat 15 :
“ Hai orang-orang yang beriman, bila bertemu dengan orang-orang kafir yang sedang menyerangmu, maka janganlah kamu membelakangi mereka (mundur).”
Allah mengingatkan bahwa Allah membimbing manusia untuk memiliki kehidupan sesungguhnya (8:24) jangan terpukau pada harta dan anak yang sebenarnya mereka itu adalah cobaan. Untuk memiliki kekuatan iman jangan solat asal-asalan yang tidak melahirkan apa-apa, apalagi keteguhan.
Firman Allah dalam S 8 ayat 35:
“Dan solat mereka di sekitar Baitullah itu tidak lain hanyalah siulan dan tepuk tangan. Maka rasakanlah azab disebabkan keingkaranmu.”
Salah satu azab Allah di dunia adalah kehidupan yang serba salah. Yaitu bergelimang dalam kegalauan dan kebingungan. Maka taatilah perintah Allah dan Rasul-Nya.  Allah telah memerintahkan untuk berjuang hingga tidak ada lagi fitnah dan ajaran Ad-Din hanya bagi Allah semata serta jadikanlah  Allah sebagai pelindung karena Dialah dan bukan selain Dia,  sebaik-baik penolong.

PERBEDAAN ILMU & PERSANGKAAN

KAJIAN JUZ 8


Allah berfirman dalam Surat 6 ayat 111, yang merupakan awal Juz 8 sbb.:
“ Dan sekalipun Kami benar-benar menurunkan malaikat kepada mereka dan orang yang telah mati berbicara dengan mereka dan Kami kumpulkan segala sesuatu di hadapan mereka, mereka tidak juga akan beriman, kecuali jika Allah menghendaki. Tapi kebanyakan mereka tidak mengetahui”.

Kecuali orang yang benar takutnya kepada Allah, hampir semua orang menganggap dirinya baik. Ketika melakukan suatu kesalahan ia akan mencari berbagai dalih pembenaran dan segera melupakannya, namun ketika melihat kesalahan orang lain sangat menggangu pikirannya bahkan tidak sungkan mencerca dengan pedas.
Hal tersebut juga termasuk  ajaran yang dianutnya. Ia merasa paham yang dianutnya yang paling benar. Ketika melihat ajaran atau aliran lain yang berseberangan ia segera mencap paham lain itu sesat dan kafir. Akan tetapi saat ia ditanya sejauh mana ilmu yang diketahuinya atas paham yang dianutnya, bagaimana riincian kandungan kitabnya, bagaimana sejarahnya, dsb. Ia akan menjawab hanya mengikuti saja orang tua atau gurunya, namun ia tetap yakin dia yang paling benar.
Firman Allah dalam Surat 6 ayat 116:
Dan jika kamu mengikuti kebanyakan orang di bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Yang mereka ikuti hanyalah persangkaan belaka dan mereka hanya membuat kebohongan.”
Jika kita bertanya kepada orang yang beragama lain misalnya yang beragama Nasrani, ia kan menjawab dengan mantap agamanya paling benar. Tetapi belum tentu dia menguasai bagaimana sejarah sesungguhnya saat terjadi keguncangan  dan perselisihan keraguan di kalangan murid dan masyarakat saat terjadi peristiwa penyaliban atas siapa yang disalib, siapa yang pertama kali mengajarkan paham Trinitas, siapakah Paulus? Tidak tahukan dalam Perjanjian baru sendiri ada bukti-bukti yang menunjukan perselisihan paham antara Paulus dengan murid Yesus itu sendiri ? Bagaimana sejarah Nasrani yang murni yang dianut para murid Yesus bisa tersingkir dan tergantikan dengan paham Trinitas? Berapa banyak Injil yang tersebebar saat itu yang saling bertentangan? Kapan diadakannya konsili yang menetapkan 4 Injil yang diakui dan kenapa hal itu terjadi? Siapa itu Yahya, Matius, Lukas? Apakah mereka pernah bertemu Yesus? Kapan dan kenapa timbul Kristen Protestan? Dsb.
Demikian pula jika kita bertanya kepada kalangan umat Islam, apa saja yang diuraikan Allah dalam surat Al Baqoroh? Apa saja perintah dan larangan Allah di dalamnya? Apa isi surat Al Mukmin jika kamu mengaku orang beriman? Apa isi Surat Muhammad? Apa isi surat Al Haj jika kamu telah pergi haji? Juz 30 terdiri atas  berapa surat? Bagaimana sejarah islam di Indonesia? Paham apa saja yang telah tersebar dan berasimilasi? Benarkah ritual yang dijalankan masih murni atau telah berbaur dengan tradisi dan  ajaran lain? Apakah kita hanya mengikuti tata cara dari orang tua dan masyarakat tanpa berfikir? Bagaimana kalau mereka keliru?
Seorang sarjana barat, Cliford Geertz dalam tulisanya “The Javanese Religion” menyatakan bahwa Islam di Jawa adalah Islam sinkretik yang merupakan campuran antara Islam, Hindu Budha dan Animisme. Corak Islam Jawa merupakan pemaduan dari berbagai unsur yang telah menyatu sehingga tidak bisa dikenali lagi sebagai Islam. Wali songo pada masa penyebaran Islam memadukan Islam dengan budaya yang ada di masyarakat untuk meraih minat umat. Pada perjalanannya hal ini semakin kental menyatu. Sehingga banyak keyakinan dan ritual yang tidak lagi bersumber dari Al Quran dan Sunah.
Andrew Beatty dalam kajiannya “Adam  and Eve and Vishnu :Syncretism in The Javanese Slametan” mendukung tulisan Geertz. Para Sarjana barat ini menggambarkan Islam di Indonesia adalah Islam Nominal, yaitu Islam yang hanya di dalam pengakuan dan bukan masuk ke dalam keyakinan dan penghayatan (Nur Syam, Guru Besar Sosiologi IAIN Sunan Ampel pada Makalah Islam pesisiran dan Islam pedalaman: Tradisi Islam di tengah perubahan sosial).
Berbagai konsep dan Tradisi yang berkembang di masyarakat yang tidak bersumber dari Al Quran dan As Sunah al.:
1.       Konsep Numerologi, yakni mengkaitkan keyakinan dengan angka, penanggalan dan hari. Contoh penghitungan tanggal kelahiran dikaitkan dengan nasib, tanggal pernikahan, hari naas-hari baik, Jumat Kliwon,dsb.
2.       Tradisi selametan, selametan tujuh bulan kehamilan, ritual setelah kelahiran, bubur merah-bubur putih, mandi kembang, ngarak, syuroan, khaul , dsb.
3.       Upacara sedekah laut, yakni memotong kerbau dan kepalanya di lempar ke laut supaya para nelayan mendapat limpahan berkah. Demikian pula di beberapa daerah para petani melakukan ritual sejenis untuk panen sawah dan tanamannya.
4.       Keyakinan akan benda-benda dan tempat yang dianggap sakti, penangkal  dan  keramat.
5.       Ritual-ritual yang telah berkembang luas, seperti talqin mayat, tahlilan 7 hari, 40 hari, 100 hari dan 1000 hari, dsb.

Firman Allah dalam surat 6 ayat 137 :
“ Dan demikianlah berhala-berhala mereka(setan) menjadikan terasa indah bagi banyak orang musyrik membunuh anak-anak mereka, untuk membinasakan mereka dan mengacaukan agama mereka sendiri. Dan kalau Allah menghendaki niscaya mereka tidak akan mengerjakannya. Biarkanlah mereka bersama apa yang mereka ada-adakan.”
Dan firman-Nya di Surat yang sama ayat 148:
Orang-orang musyrik akan berkata ‘ Jika Allah menghendaki tentu kami tidak akan mempersekutukan-Nya, begitu pula nenek moyang kami (yang kami ikuti), dan kami tidak akan mengharamkan apapun.’ Demikian pula orang-orang sebelum mereka yang telah mendustakan sampai mereka merasakan azab Kami. Katakan : ’Apakah kamu mempunyai penggetahuan yang dapat kamu kemukakan kepada Kami? Yang kamu ikuti hanya persangkaan belaka dan kamu hanya mengira.”
Dan Firman-Nya di ayat 159:
Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agamanya dan mereka menjadi (terpecah) dalam golongan-golongan, sedikitpun bukan tanggung jawabmu atas mereka. Sesungguhnya urusan mereka (terserah) kepada Allah. Kemudian Dia akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka buat.”
Dalam ayat 3 Surat Al- A’Raf Allah memerintahkan untuk hanya mengikuti yang diturunkan dari-Nya dan melarang mengikuti selainnya dan dinyatakan-Nya  amat  sedikit manusia mengambil pelajaran. Manusia sangat sibuk dengan dirinya sendiri, melupakan asal-usulnya dan merasa dirinya sudah benar. Tanpa disadari dia telah setuju dengan tabiat Iblis dan menjadi budaknya.
Iblis telah bersumpah kepada Allah untuk menipu manusia dari berbagai arah dan cara. Kepada orang awam dia menyuruh berbuat keji yang kasat mata, kepada para santri ditimbulkan perasaan bersaing, perselisihan karena ucapan, kedengkian dan permusuhan, kepada yang mengaku guru  dibisikan rasa bangga diri, ujub, riya, gila hormat dan  takabur.
Allah telah memperingatkan manusia agar jangan sampai terpedaya setan. Lindungi diri kita dengan sebaik-baik pakaian yaitu takwa. Pengertian takwa lebih cenderung pada rasa takut, siapapun tidak punya rasa takut pada-Nya bukan tergolong orang yang bertakwa walaupun mengaku ulama.
Takwa hanya akan diraih dengan ilmu. Seluas-luas dan sedalam-dalam ilmu adalah Al Quran. Barang siapa yang sehari semalam tidak menghayati Al Quran maka binasalah ia, ketika kematian datang sedangkan ia menyangka seperti biasanya, hidup masih lama masih banyak waktu. Maka kelak ia ditempatkan pada tempat yang paling rendah yakni dalam neraka yang bergejolak, sedangkan orang-orang bertakwa ditempatkan pada tempat yang paling tinggi.
Menghadapi orang-orang yang merasa benar padahal jauh dari ilmu, kepada orang-orang yang beriman diperintahkan bersabar sebagaimana dicontohkan para Nabi.