Selasa, 26 Juli 2011

KEKUATAN LIMA PILAR ISLAM


Bagian 2 dari 7  Tulisan

I. Syahadah

Dalam kehidupan, manusia tidak terlepas dari masalah, besar atau kecil. Adalah terlampau dangkal jika beranggapan masalah adalah identik dengan factor ekonomi dan menganggap kesenangan  akan diaraih jika memiliki banyak uang. Jika kita berfikir dan melihat secara jujur betapa banyak orang-orang yang dianggap kaya lebih banyak memiliki muka memberengut dililit aneka masalah yang pelik. Justru semakin tinggi kedudukan seseorang akan semakin besar tuntutan dan juga tantangannya.

Manusia yang mengingkari fitrah sebagai Ciptaan dan Hamba-Nya dan jauh dari tuntunan-Nya akan mengalami kekeringan jiwa. Kehampaan batin, kegelisahan dan kekalutan lebih banyak mendominasi dirinya. Sedikit saja terbentur suatu masalah akan timbul amarahnya, tidak mampu mengendalikan kesabaran, merasa sedih, mengasihani diri sendiri dan menyalahkan orang lain dan hal-hal lain selain dirinya sendiri.
Syahadah artinya kesaksian, sebagaimana Firman Allah dalam Surat & ayat 172 sbb.:

“Dan ingatlah ketika Rabb-mu mengeluarkan dari sulbi anak cucu adam keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap diri mereka: ‘ Bukankah Aku ini Rabb-mu?’ Mereka menjawab:’Benar, kami bersaksi’ (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan:’Sesungguhnya kami lalai terhadap ini.”

Ketika seseorang benar dengan pernyataan Syahadahnya yang dibuktikan dengan perilaku hidupnya yang berpola pada Rasul-Nya, maka pada setiap hirupan nafasnya ia tidak akan lalai akan kehadiran Yang Maha Kuasa yang kekuasan-Nya meliputi alam langit dan bumi dan yang ada di antara keduanya. Kesadaran yang menetap ini akan memberikan energy yang luar biasa pada dirinya.

Ingatlah bahwa kekuatan fisik manusia itu sangat terbatas namun kekuatan batinnya adalah luas. Alam lahir lebih rendah karena hal itu juga dimiliki binatang. Syahadah yang benar akan mampu mengendalikan segala sikap lahiriah. Namun jika semua perilaku lahiriah menutup dan melalaikan batin atau hati maka dapat dipastikan pernyataan syahadahnya adalah dusta belaka dan tidak memiliki kekuatan apa-apa sehingga kondisi jiwanya tetap galau dan lemah namun terkadang ditutupi dengan ketakaburan.

Bulan Syaban menjelang bulan Ramadhan ini adalah bulan Self Control atau perenungan antara lain merenung seberapa benar dan seberapa kuat pengakuan syahadat kita. Seberapa kuat kita mengendalikan pikiran kita sehingga tidak tergolong orang yang lalai dan seberapa kuat mengendalikan hati kita tidak mengarah pada segala perasaan yang negative. Jangan sampai kita tergolong umat islam akhir jaman  yang disitir Nabi seperti buih di lautan, tidak memiliki kekuatan apa-apa sama-sekali.

Kamis, 07 Juli 2011

YOU BECOME WHAT YOU THINK


(Anda menjadi apa yang anda pikirkan)

Bagian I

Disadari atau tidak manusia adalah produk pikirannya sendiri. Kalau anda berfikir  bahwa anda adalah seorang yang baik dan suka memberi, maka anda  akan menjadi  orang yang baik dan suka memberi. Kalau anda berfikir anda seorang yang jahat maka anda kan menjadi orang yang jahat. Kalau anda berpendapat anda seorang pemalu maka anda menjadi seorang pemalu. Kalau anda bependapat anda seorang yang bodoh maka akan menjadi demikian kenyataannya.

Pemikiran disini adalah pemikiran secara jujur dari hati nurani terdalam . Pemikiran demikian terbentuk bertahun-tahun mulai dari masa kecil  hingga dewasa. Mulai dari perlaku orang tua terhadap anda, perlakuan dari lingkungan dan pengalaman pahit dan manis dari hidup.  Pendapat orang lain tentang diri anda mengikuti pendapat anda tentang diri sendiri. Orang  berpendapat bahwa  anda seorang yang canggung dan pemalu karena anda sendiri yang menunjukkan sikap demikian, tetapi kalau anda berfikir anda seorang yang hangat , penuh percaya diri dan menyenangkan, maka anda akan bersikap demikian pula dan juga pendapat orang tentang anda.

Demikian pula dengan keadaan kehidupan  kelapangan atau kesejahteraan, ketinggian dan kerendahan kedudukan seseorang. Kalau anda selalu berfikir anda seorang yang susah, rendah  dan anda selalu bersedih hati karenanya maka kehidupan akan mewujudkan keadaan demikian.  Perhatikan firman Allah dalam surat 58 ayat 11 :
“ Wahai orang-orang yang beriman! Apabila dikatakan kepadamu ‘Berilah kelapangan di dalam majelis-majelis’ maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan ‘ Berdirilah kamu’ maka berdirilah, niscaya Allah akan mengangkat (kedudukan) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang berilmu beberapa derajat. Dan Allah Maha teliti apa yang kamu kerjakan.”

Ayat tersebut bisa dilihat sebagai ayat muhkamat atau ayat mutasyabihat tergantung dari sisi mana  menafsirkannya. Namun ayat-ayat Al Quran adalah luas. Ayat ini mencakup perintah lahiriah juga batiniah. Adalah benar kalau ditafsirkan jangan duduk berhimpit-himpitan ketika hadir dalam suatu majelis, namun adalah benar juga jika dihubungkan dengan perintah lapangkanlah dada atau hati  niscaya Allah memberi kelapangan hidup , serta perintah berdirilah atau bangkitlah jangan menganggap diri rendah niscaya Allah akan mengangkat derajat kedudukan dalam hidup

Kelapangan dada atau hati adalah langkah awal bagi terwujudnya semua kemudahan, kelapangan hidup dan kedudukan yang baik. Perhatikan surat Al Insyirah ( Surat 94) yang artinya Kelapangan sbb.:
1.       Bukankah Kami telah melapangkan dadamu?
2.       Dan Kami angkat beban darimu
3.       Yang memberatkan punggungmu
4.       Dan Kami tinggikan sebutan bagimu
5.       Maka sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan
6.       Sesudah kesulitan itu ada kemudahan
7.       Maka apabila telah selesai (suatu urusan) kerjakan dengan sungguh-sungguh (urusan yang lain)
8.       Dan hanya kepada Tuhan-mulah engkau berharap.

Barangkali kita pernah membaca membaca sebuah Hadis Qudsi yang terkenal dimana Allah berfirman “ Aku mengikuti sangkaan hamba-KU” Kalau kita menilai diri tidak mampu, tidak akan bisa mencapai sesuatu, maka pikiran kita akan mengeluarkan berbagai alasan kenapa tidak mampu dan tidak bisa. Namun jika kita memiliki keyakinan kuat kita bisa mencapainya, apalagi bersandar kepada Yang Maka Kuasa dan kekuasaan-Nya tanpa batas, pikiran kita akan menemukan jalan-jalan yang selama ini tertutup karena kita sendiri yang selama ini  menutupnya.

Semua benda atau materi di alam semesta ini memiliki unsur partikel  terkecil yang disebut atom. Atom terdiri dari dua unsur yakni proton dan neutron. Belakangan para akhli menemukan bahwa unsur-unsur ini ternyata adalah energi. Dan ketahuilah bahwa energi dapat dikendalikan oleh kekuatan  pikiran. Barangkali kita pernah menemukan suatu kejadian yang disebut orang kena santet. Paku, jarum dan benda-benda materi lainnya bisa ada di dalam perut seseorang. Atau dalam film serial Startrek digambarkan orang bisa  berpindah tempat ke tempat yang dituju hanya dalam sekejap mata  setelah sebelumnya orang tersebut diubah menjadi energi dan dikembalikan lagi menjadi materi pada tempat yang dinginkan.

Dalam Islam terdapat Lima pilar untuk mencapai kebahagiaan lahir dan batin. Lima pilar ini juga merupakan lima langkah kekuatan untuk meraih kehidupan yang penuh dengan kenikmatan. (BERSAMBUNG)
  

Senin, 13 Juni 2011

27 BENTUK KESADARAN UNTUK MERAIH KEUTAMAAN

KAJIAN JUZ 27
(Menyambut Isra Mi'Raj Tgl.27 Rajab 1432 H)

Al Quran sebagaimana kita ketahui memiliki tujuh fungsi. Yang pertama saat kita membaca Al Quran hendaknya terbentuk suatu Kesadaran (Dzikrun) sehingga menjadikannya Petunjuk dalam kehidupan (Hudan) dan Al Quran telah menjadikan petunjuk itu Gamblang (Bayan) sehingga kita mampu memfungsikannya sebagai penyembuh penyakit yang ada dalam dada (Syifa). Setelah hati bersih maka Al Quran menjadi penerang (Nur) yang menjadikan kita memiliki penggetahuan (Ilmu) dan mampu diwujudkan dalam kehidupan sehingga jelas berbeda dengan yang batil (Furqon).

Jika seseorang dalam tujuh hari tujuh malam  memfungsikan tujuh fungsi Al Quran tersebut, terutama tujuh ayat Ummul Quran, Al Fatihah, maka ia akan mampu solat penuh kekhusuan. Ketika ia berdoa dalam qolbu saat sujud, yaitu sujud yang dibarengi tujuh anggota badan rukun sujud ; dua ujung telapak kaki, dua lulut, dua telapak tangan dan kening, maka maka seluruh mahluk Allah yang berada di tujuh lapis langit dan tujuh lapis bumi akan ikut serta mengaminkan.

Juz 27 terdiri dari 7 Surat dimulai dari Surat 51 ayat 31 sampai dengan Surat 57 ayat terakhir atau ayat 29. Dibuka dengan kisah diazabnya kaum-kaum yang mendustakan para Rasul dengan berbagai bencana yang membinasakan dan diakhiri dengan ayat-ayat yang menyiratkan keharusan kita berfikir bahwa Allah telah menciptakan Besi yang kuat maka hendaknya kita tergugah untuk memiliki kekuatan dan keteguhan untuk meneggakan ajaran-Nya.

Dari Juz tersebut dapat ditarik 27 bentuk kesadaran sbb.:
1.       Hendaknya kita melakukan introspeksi apakah  ada keangkuhan dalam diri kita  yang tidak disadari ? Keangkuhan adalah merasa benar dan tersinggung jika diberitahukan kebenaran, walaupun solatnya dari takbir sampai salam tidak disertai hati dan waktunya banyak sia-sia. Keangkuhan yang tidak disadari adalah kita tetap seperti itu tanpa tidak perduli. Kaum Tsamud berlaku angkuh dengan Perintah Allah maka mereka disambar petir yang membinasakan(S 51:44).

2.       Apakah peringatan-peringatan Allah telah membuka kesadaran? Jika tidak maka semua ayat-ayat Allah tidak akan bermanfaat  ( S.51:55). Hindari menjadikan Islam atau Majelis atau kelompok jamaah  suatu yang Eksklusif atau Inklusif. Kita merasa istimewa dan bangga dengan Islam atau kelompok jamaah atau imam kita. Apakah anda meng-akbarkan Allah atau membesarkan hawa nafsu sendiri?  Tipuan setan itu halus. Kita rame-rame solat tarawih pada bulan Ramadhan dengan penuh kegembiraan, namun solatnya kebut-kebutan sama sekali jauh dari penghayatan. Menjelang Idul Fitri semua sibuk dengan memikirkan makanan lebaran dan baju baru dan segala barang baru. Apakah kita memikirkan sejauh mana saum kita telah membakar hawa nafsu? Apakah benar kita kembali fitri? Atau sekarang malah gembira karena tidak ada lagi  yang mengekang nafsu? Apakah kita menang atau setan yang tetap menang? Jangan-jangan setan tertawa terpingkal-pingkal melihat kebodohan manusia.


3.       Allah berfirman : “ Aku tidak menciptakan Jin dan Manusia melainkan untuk mengabi kepada-Ku ( S 51:56)”. Apakah kita mengabdi kepada-Nya atau pada hanya keinginan sendiri? Apakah kita saat terbangun dari tidur ingat Dia dan perintah-perintah-Nya? Atau langsung ingat berbagai kesibukan atau kebutuhan. Sehari penuh kita berjuang untuk kepentingan karir, keluarga , kebutuhan, target, dsb. Mengapa tidak menyandarkan semua aktifitas pada perintah-Nya? Allah tidak menyuruh kita sehari-semalam wirid di mesjid atau mushola dan mengabaikan kewajiban pada keluarga. Seorang mukmin itu harus memberi manfaat kepada orang lain bahkan Rasul itu Rahmatan lil alamin.

4.       Allah berfirman : “ Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada dalam surga dan kenikmatan (S 52:17).” Kita teliti diri sendiri apakah kita telah memiliki ketenangan dan kenyamanan batin atau masih dalam kegalauan dan aneka kebingungan.


5.       Al Quran S 52 ayat 28 ; “ Sesungguhnya kami mengabdi pada-nya sejak dahulu. Dialah Yang Melimpahkan kebaikan, Maha Penyayang”  Dari ayat ini kita tafakur sejauh mana kita telah banyak melakukan kebaikan dan menyayangi  orang dan mahluk lain?

6.       Al Quran S S 53 ayat 3 : “ Dan tidaklah yang dicapkannya itu dari hawa nafsu”.  Apakah kita sudah mampu mengendalikan lisan kita atau malah asal bicara dan banyak ngobrol sia-sia apalagi berdosa seperti membicarakan kejelekan orang lain?


7.       Firman Allah : “ Atau apakah manusia akan mendapat segala yang diinginkannya?” (S 53;24). Semua yang ada di langit dan di bumi itu milik Allah, jika ada suatu keinginan kita teliti apakah sesuai dengan perintah dan tidak melanggar larangan-Nya?

8.       Apakah kita telah menjadikan ilmu sebagai imamnya amal? ( S 53:28). Semua aktifitas manusia dalam segala aspek seperti cara bekerja, cara berumah-tangga, cara bermasyarakat, cara sholat, cara makan, cara minum sampai cara ke kamar mandi telah dibimbing oleh Allah dan Rasul-Nya. Hendaknya kita gali.


9.       Firman Allah : “ Maka tinggalkanlah orang yang berpaling dari peringatan Kami dan dia hanya mengingini kehidupan dunia?” Apakah jiwa kita masih tetap seperti ini?

10.   “ Dan sungguh Kami telah mudahkan Al Quran untuk peringatan, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?”( S 54:17) Apakah kita telah menjadikan ayat-ayat Al Quran sebagai renungan dan pemikiran atau membacanya sambil lalu?


11.   “ Sungguh orang yang berdosa berada dalam kesesatan ( di dunia) dan akan berada dalam neraka.” (S 54:47) Apakah hati kita masih kesat ?

12.   “ Dan segala sesuatu yang mereka perbuat tercatat dalam buku-buku catatan” ( S 54:52). Apakah kita selalu mencatat yang telah dikerjakan dan membuat perencanaan yang akan dikerjakan? Seorang mukmin itu waktunya teroganisir dengan baik. Hadis Rasul SAW yang terkenal bahwa hari ini harus lebih baik dari hari kemarin, jika sama berarti rugi, jika lebih jelek maka celaka.


13.   “ Dan tegakkanlah keseimbangan itu dan janganlah kamu mengurangi keseimbangan itu” ( S 55:9) Apakah kita memiliki keseimbangan antara siang dan malam, dunia dan akhirat, diri kita dengan keluarga, keluarga dan masyarakat? Jangan sekali-kali kita merusak Ekosistem, yaitu keseimbangan di alam semesta.

14.   “Semua yang ada di bumi akan binasa” ( S 55:26) Bagaimana kalau besok pagi kita dipanggil-Nya?  Atau kita  merasa hidup masih lama masih banyak waktu untuk bertobat dan persiapan mati?


15.   “Dan orang-orang yang berdosa dikenal dengan tanda-tandanya lalu direngut ubun-ubun dan kakinya” ( S 55: 41) Apakah kita berwajah muram gelap atau berwajah cerah?

16.   “ Dan bagi siapa yang takut menghadap Rabbnya ada dua surga” (S 55:46) Apakah kita tergolong orang yang takut atau merasa terjamin jadi akhli surga?


17.   “Terjadinya (kiamat) tidak dapat didustakan” ( S 56:2) Apakah sebatas pengakuan percaya akan hari kiamat atau selalu mempersiapkan diri ?

18.   “Dan kamu menjadi tiga golongan” ( S 56:7) Menurut penilaian diri sendiri secara jujur tergolong yang manakah saat ini? Akhli surga atau akhli neraka? Mana buktinya?


19.   “Sesungguhnya mereka ( Akhli Neraka) dahulu hidup bermewah-mewah” ( S 56:45) Apakah diri kita masih sama seperti orang kafir yaitu selalu  mengidamkan dan bangga dengan kemewahan?

20.   “Pernahkah kamu memperhatikan air yang kamu minum?” ( S 56:68) Atau asal minum?


21.   “Maka pernahkah memperhatikan api yang kamu nyalakan?” ( S 56:71) Atau tidak pernah berfikir?

22.   “Tidak ada yang menyentuhnya ( Al Quran) selain hamba-hamba yang disucikan” ( S 56:79). Apakah diri kita sudah bersih dari tabiat setan?  Sebab setan tidak akan mampu mewujudkan Al Quran dalam dirinya.


23.   “Dan kamu menjadikan rezeki yang kamu terima ( Al Quran) justru untuk mendustakan?” ( S 56:82). Malah kamu memilih kesenangan dunia ini dan melalaikan Al Quran!

24.   “......Dan Dia bersama kamu dimana saja kamu berada. Dan Allah Maha melihat Yang kamu kerjakan” ( S 57:4) Apakah kita selalu sadar ini atau selalu lalai?


25.   “Miliknyalah kerajaan langit dan bumi. Dan hanya kepada Allah dikembalikan segala urusan” ( S57:5) Apakah kita masih terlena dengan urusan sendiri?

26.   “....Dan Dia telah mengambil janjimu, jika kamu orang beriman” (S 57:8). Apakah kita telah memenuhi janji-janji kepada Allah seperti takbir kita Allahu Akbar bahwa Allah-lah yang besar bukan hawa nafsu atau hanya sekedar ucapan bacaan?


27.   Allah berfirman dalam Surat Al Hadid ayat 16 : “ Belum tibakah waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk secara khusu mengingat Allah dan mematuhi kebenaran yang telah diwahyukan. Dan janganlah mereka seperti orang-orang yang telah menerima kitab sebelum itu. Kemudian mereka melalui masa yang panjang sehingga hati menjadi keras. Dan banyak diantara mereka menjadi orang-orang fasik”

Kamis, 09 Juni 2011

TUJUH BENTUK UJIAN KEIMANAN


KAJIAN JUZ 20


Dalam permulaan Juz 20 yakni surat 27 ayat 60 sd 64 Allah mengajak orang-orang beriman untuk tafakur atau merenungkan secara mendalam hal-hal sbb.:

1.      - Bukankah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi, menurunkan air hujan dan dengan air hujan itu   ditumbuhkannya kebun-kebun yang berpemandangan indah?
2.       Bukankah Allah telah menjadikan Bumi tempat kamu berdiam, dijadikannya sungai-sungai yang mengalir di celah-celahnya, dijadikannya gunung-gunung yang dari jauh terlihat biru dan menjadikan pemisah antara air tawar dan air laut?
3.       Bukankah Allah yang mengabulkan orang-orang yang berdoa  dan menghilangkan kesusahan? Bukankah Dia yang menjadikan kamu khalifah di muka bumi?
4.       Bukankah Allah yang telah memberi tanda-tanda sebagai petunjuk saat kamu dalam kegelapan di daratan dan di lautan dan Dia yang mendatangkan angin yang bertiup lembut sebelum kedatangan rahmat-Nya?
5.       Bukankah Allah yang menciptakan semua mahluk sejak awalnya dan mengulanginya kembali? Dan bukankah Dia yang memberikan rezeki dari langit dan dari bumi?

Dari ayat-ayat yang berupa pertanyaan tersebut seakan tersirat pertanyaan-pertanyaan lain seperti ini :

1.       Lalu mengapa kamu masih sibuk dengan dirimu sendiri? Hati kamu masih banyak diliputi kemusrikan yaitu banyaknya keinginan dan pemikiran yang bercabang-cabang yang tidak pernah kamu kontrol apakah sesuai dengan kehendak dan perintah-Nya?
2.       Lalu mengapa kamu tidak mensyukuri dengan sebenar rasa syukur berbagai karunia Allah yang telah dilimpahkan-Nya kepadamu?
3.       Lalu mengapa kamu masih bersikukuh dengan keyakinanmu sendiri bahwa kenikmatan itu adalah jika banyaknya uang dan harta benda serta pujian dari orang-orang? Diuji sedikit saja dengan kesempitan kamu langsung kehilangan iman yaitu merasa susah dan berkeluh kesah? Mengapa keimananmu sekedar bahasa?
4.       Lalu mengapa kamu masih bersekongkol dengan setan yakni mengambil tabiat setan sebagai tabiatmu? Pikiran dan perasaanmu masih simpang siur saat solat. Kamu malas dan banyak mencuri kesempatan untuk bermalas-malasan. Kamu begitu semangat saat membicarakan kejelekan orang lain, begitu bangga saat bercaka-cakap tentang harta benda, tempat  dan usaha yang kamu miliki , begitu bangga jika mengenal dan dekat dengan orang kaya. Namun kamu mengantuk jika membaca atau mendengar paparan Al Quran dan kamu tidak pernah bangga dengan sebenarnya kepada-Ku? Apakah kamu tidak sadar selalu berdusta kepada-ku?

Kita hendaknya tergugah dan menyadari kita masih tertipu hawa nafu sendiri tetapi selalu menyangka diri baik. Seorang yang benar imannya  bersikap keras terhadap diri sendiri dan bersikap lembut terhadap orang lain, bukan sebaliknya.
Seorang yang menyatakan diri beriman akan diuji Allah untuk menyatakan kepada orang itu sendiri untuk mengenal dirinya apakah dia seorang pendusta atau seorang beriman seperti yang dia sangka, karena Allah Maha menggetahui permulaan dan akhirnya.
Ujian-ujian Allah terdiri atas tujuh bentuk. Adakalanya diberikan semua atau sebagian sebagaimana besar-kecilnya tergantung pada kadar keimanan seseorang.

1.       Ujian Menghadapi penentangan dan permusuhan. Sudah merupakan sunatullah setiap pembawa kebenaran menghadapi penentangan dan permusuhan dari lingkungan keluarga dan masyarakat. Rasul SAW yang sedemikian halus budi-pekertinya dan sejak muda disukai masyarakat sampai dijuluki Al-Amin, ketika menyampaikan kebenaran, ditentang dan dimusuhi sedemikian hebat. Kepada Beliau Allah berfirman : “ Dan janganlah Engkau bersedih hati terhadap mereka dan janganlah (dadamu) merasa sempit terhadap upaya tipu daya mereka” ( S 27:70).
Menghadapi kondisi ini Allah berfirman : “ Maka bertawakallah kepada Allah, sungguh Engkau berada di atas kebenaran yang nyata.” ( S 27:79)

2.       Ujian Perpisahan dengan orang yang dicintai. Ujian ini merupakan ujian terberat dari semua ujian selainnya. Cinta merupakan kondisi terdalam dari batin dan batin lebih unggul dari lahir. Ketika seseorang mengalami kelezatan atau penderitaan batin maka ia bisa mengabaikan kondisi lahir semisal lapar dan haus. Namun bila seseorang lapar atau haus tidak akan berpengaruh kuat pada kondisi batin sebagaimna sebaliknya. Ibu kandung Nabi Musa mengalami keguncangan luar biasa ketika dihadapkan pada pilihan keharusan menghanyutkan bayinya di sungai Nil. Allah menjelaskan kondisi ini dalam surat 28 ayat 10 :
“ Dan hati Ibu Musa menjadi kosong. Sungguh, hampir saja dia menyatakannya (rahasia tentang Musa), seandainya tidak Kami teguhkan hatinya agar dia termasuk orang yang percaya/beriman (pada janji Allah).”

3.       Ujian Kesulitan dan kesempitan. Ujian ini umumnya dialami oleh semua orang beriman. Kesulitan berhubungan dengan situasi dan kondisi umum, sedangkan kesempitan berhubungan dengan ketidak-cukupan pemenuhan kebutuhan. Nabi Musa diuji dengan dua hal ini setelah pergi meninggalkan istana ke arah Madyan. Ia lebih mendahulukan menolong memberi minum ternak yang digembalakan dua orang puteri Nabi Syuaib daripada dirinya sendiri yang dahaga. ( S 28: 23-24).

4.       Ujian Penglihatan dan Pendengaran. Penglihatan dan pendengaran adalah sarana masuknya informasi ke dalam hati. Ketika kita tidak mengendalikan apa yang dilihat dan didengar maka hati akan terpolusi. Diriwayatkan ketika Nabi Musa berjalan mengikuti dua orang puteri Nabi Syuaib untuk memenuhi undangannya, salah seorang tersingkap betisnya. Nabi Musa segera menghindarkan pandangannya dan meminta dia yang berjalan lebih dulu.

5.       Ujian dalam lingkungan pergaulan.  Allah menciptakan perbedaan sifat dan karakter di antara manusia sebagai ujian satu sama lain. Untuk ini kita diperintahkan bersabar tidak  memaksa orang lain harus sesuai dengan keinginan dan standar kita. Jika melihat kekurangan kawan maka carilah kelebihannya, demikian pula di antara suami-istri. Orang yang paling bersih keimanannya adalah orang yang paling mencintai sahabat-sahabatnya. Dia tidak akan memaafkan dirinya jika tidak mampu memaafkan kesalahan kawannya. Allah berfirman dalam Surat 28 ayat 54 : ”Mereka itulah diberi pahala dua kali disebabkan kesabaran mereka. Dan mereka menolak keburukan dengan kebaikan....”

6.       Ujian kenikmatan dan kekayaan.  Ujian ini adalah ujian yang paling berbahaya sangat sedikit orang yang bisa lulus dengan nilai baik karena tidak disadari sebagai ujian. Ketika seseorang tidak mampu bertahan dengan ujian kesempitan maka dapat dipastikan ia tidak akan mampu mengendalikan diri saat dibukakan pintu kelapangan dan kemudahan. Dia akan bangga dan sibuk dengan hartanya. Allah menceritakan kisah Qorun yang telah diberi harta yang banyak :
“Dia(Qorun) berkata: ’ Sesungguhnya aku diberi (harta itu) semata-mata karena ilmu yang ada padaku.’ Tidakah dia tahu bahwa Allah telah membinasakan umat-umat yang sebelumnya yang lebih kuat dan lebih banyak mengumpulkan harta? Dan orang-orang
yang berdosa itu tidak perlu ditanya tentang dosa-dosanya.”( S 28:78)

7.       Ujian Penangguhan waktu.Terhadap orang-orang ingkar, orang-orang yang menentang dengan keras dan orang-orang berdosa ada kalanya Allah menjadikan mereka semakin makmur dan maju dalam usahanya dan juga diberi umur panjang. Ini merupakan ujian bagi orang-orang yang beriman.
Firman Allah dalam Surat 29 ayat 4 :
“Ataukah orang-orang yang mengerjakan kejahatan itu mengira bahwa mereka akan luput dari (azab) Kami? Sangat buruklah apa yang mereka tetapkan itu!”