Bagian 2 dari 7 Tulisan
I. Syahadah
Dalam kehidupan, manusia tidak terlepas dari masalah, besar atau kecil. Adalah terlampau dangkal jika beranggapan masalah adalah identik dengan factor ekonomi dan menganggap kesenangan akan diaraih jika memiliki banyak uang. Jika kita berfikir dan melihat secara jujur betapa banyak orang-orang yang dianggap kaya lebih banyak memiliki muka memberengut dililit aneka masalah yang pelik. Justru semakin tinggi kedudukan seseorang akan semakin besar tuntutan dan juga tantangannya.
Manusia yang mengingkari fitrah sebagai Ciptaan dan Hamba-Nya dan jauh dari tuntunan-Nya akan mengalami kekeringan jiwa. Kehampaan batin, kegelisahan dan kekalutan lebih banyak mendominasi dirinya. Sedikit saja terbentur suatu masalah akan timbul amarahnya, tidak mampu mengendalikan kesabaran, merasa sedih, mengasihani diri sendiri dan menyalahkan orang lain dan hal-hal lain selain dirinya sendiri.
Syahadah artinya kesaksian, sebagaimana Firman Allah dalam Surat & ayat 172 sbb.:
“Dan ingatlah ketika Rabb-mu mengeluarkan dari sulbi anak cucu adam keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap diri mereka: ‘ Bukankah Aku ini Rabb-mu?’ Mereka menjawab:’Benar, kami bersaksi’ (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan:’Sesungguhnya kami lalai terhadap ini.”
Ketika seseorang benar dengan pernyataan Syahadahnya yang dibuktikan dengan perilaku hidupnya yang berpola pada Rasul-Nya, maka pada setiap hirupan nafasnya ia tidak akan lalai akan kehadiran Yang Maha Kuasa yang kekuasan-Nya meliputi alam langit dan bumi dan yang ada di antara keduanya. Kesadaran yang menetap ini akan memberikan energy yang luar biasa pada dirinya.
Ingatlah bahwa kekuatan fisik manusia itu sangat terbatas namun kekuatan batinnya adalah luas. Alam lahir lebih rendah karena hal itu juga dimiliki binatang. Syahadah yang benar akan mampu mengendalikan segala sikap lahiriah. Namun jika semua perilaku lahiriah menutup dan melalaikan batin atau hati maka dapat dipastikan pernyataan syahadahnya adalah dusta belaka dan tidak memiliki kekuatan apa-apa sehingga kondisi jiwanya tetap galau dan lemah namun terkadang ditutupi dengan ketakaburan.
Bulan Syaban menjelang bulan Ramadhan ini adalah bulan Self Control atau perenungan antara lain merenung seberapa benar dan seberapa kuat pengakuan syahadat kita. Seberapa kuat kita mengendalikan pikiran kita sehingga tidak tergolong orang yang lalai dan seberapa kuat mengendalikan hati kita tidak mengarah pada segala perasaan yang negative. Jangan sampai kita tergolong umat islam akhir jaman yang disitir Nabi seperti buih di lautan, tidak memiliki kekuatan apa-apa sama-sekali.