Selasa, 26 Juli 2011

KEKUATAN LIMA PILAR ISLAM


Bagian 2 dari 7  Tulisan

I. Syahadah

Dalam kehidupan, manusia tidak terlepas dari masalah, besar atau kecil. Adalah terlampau dangkal jika beranggapan masalah adalah identik dengan factor ekonomi dan menganggap kesenangan  akan diaraih jika memiliki banyak uang. Jika kita berfikir dan melihat secara jujur betapa banyak orang-orang yang dianggap kaya lebih banyak memiliki muka memberengut dililit aneka masalah yang pelik. Justru semakin tinggi kedudukan seseorang akan semakin besar tuntutan dan juga tantangannya.

Manusia yang mengingkari fitrah sebagai Ciptaan dan Hamba-Nya dan jauh dari tuntunan-Nya akan mengalami kekeringan jiwa. Kehampaan batin, kegelisahan dan kekalutan lebih banyak mendominasi dirinya. Sedikit saja terbentur suatu masalah akan timbul amarahnya, tidak mampu mengendalikan kesabaran, merasa sedih, mengasihani diri sendiri dan menyalahkan orang lain dan hal-hal lain selain dirinya sendiri.
Syahadah artinya kesaksian, sebagaimana Firman Allah dalam Surat & ayat 172 sbb.:

“Dan ingatlah ketika Rabb-mu mengeluarkan dari sulbi anak cucu adam keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap diri mereka: ‘ Bukankah Aku ini Rabb-mu?’ Mereka menjawab:’Benar, kami bersaksi’ (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan:’Sesungguhnya kami lalai terhadap ini.”

Ketika seseorang benar dengan pernyataan Syahadahnya yang dibuktikan dengan perilaku hidupnya yang berpola pada Rasul-Nya, maka pada setiap hirupan nafasnya ia tidak akan lalai akan kehadiran Yang Maha Kuasa yang kekuasan-Nya meliputi alam langit dan bumi dan yang ada di antara keduanya. Kesadaran yang menetap ini akan memberikan energy yang luar biasa pada dirinya.

Ingatlah bahwa kekuatan fisik manusia itu sangat terbatas namun kekuatan batinnya adalah luas. Alam lahir lebih rendah karena hal itu juga dimiliki binatang. Syahadah yang benar akan mampu mengendalikan segala sikap lahiriah. Namun jika semua perilaku lahiriah menutup dan melalaikan batin atau hati maka dapat dipastikan pernyataan syahadahnya adalah dusta belaka dan tidak memiliki kekuatan apa-apa sehingga kondisi jiwanya tetap galau dan lemah namun terkadang ditutupi dengan ketakaburan.

Bulan Syaban menjelang bulan Ramadhan ini adalah bulan Self Control atau perenungan antara lain merenung seberapa benar dan seberapa kuat pengakuan syahadat kita. Seberapa kuat kita mengendalikan pikiran kita sehingga tidak tergolong orang yang lalai dan seberapa kuat mengendalikan hati kita tidak mengarah pada segala perasaan yang negative. Jangan sampai kita tergolong umat islam akhir jaman  yang disitir Nabi seperti buih di lautan, tidak memiliki kekuatan apa-apa sama-sekali.

Kamis, 07 Juli 2011

YOU BECOME WHAT YOU THINK


(Anda menjadi apa yang anda pikirkan)

Bagian I

Disadari atau tidak manusia adalah produk pikirannya sendiri. Kalau anda berfikir  bahwa anda adalah seorang yang baik dan suka memberi, maka anda  akan menjadi  orang yang baik dan suka memberi. Kalau anda berfikir anda seorang yang jahat maka anda kan menjadi orang yang jahat. Kalau anda berpendapat anda seorang pemalu maka anda menjadi seorang pemalu. Kalau anda bependapat anda seorang yang bodoh maka akan menjadi demikian kenyataannya.

Pemikiran disini adalah pemikiran secara jujur dari hati nurani terdalam . Pemikiran demikian terbentuk bertahun-tahun mulai dari masa kecil  hingga dewasa. Mulai dari perlaku orang tua terhadap anda, perlakuan dari lingkungan dan pengalaman pahit dan manis dari hidup.  Pendapat orang lain tentang diri anda mengikuti pendapat anda tentang diri sendiri. Orang  berpendapat bahwa  anda seorang yang canggung dan pemalu karena anda sendiri yang menunjukkan sikap demikian, tetapi kalau anda berfikir anda seorang yang hangat , penuh percaya diri dan menyenangkan, maka anda akan bersikap demikian pula dan juga pendapat orang tentang anda.

Demikian pula dengan keadaan kehidupan  kelapangan atau kesejahteraan, ketinggian dan kerendahan kedudukan seseorang. Kalau anda selalu berfikir anda seorang yang susah, rendah  dan anda selalu bersedih hati karenanya maka kehidupan akan mewujudkan keadaan demikian.  Perhatikan firman Allah dalam surat 58 ayat 11 :
“ Wahai orang-orang yang beriman! Apabila dikatakan kepadamu ‘Berilah kelapangan di dalam majelis-majelis’ maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan ‘ Berdirilah kamu’ maka berdirilah, niscaya Allah akan mengangkat (kedudukan) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang berilmu beberapa derajat. Dan Allah Maha teliti apa yang kamu kerjakan.”

Ayat tersebut bisa dilihat sebagai ayat muhkamat atau ayat mutasyabihat tergantung dari sisi mana  menafsirkannya. Namun ayat-ayat Al Quran adalah luas. Ayat ini mencakup perintah lahiriah juga batiniah. Adalah benar kalau ditafsirkan jangan duduk berhimpit-himpitan ketika hadir dalam suatu majelis, namun adalah benar juga jika dihubungkan dengan perintah lapangkanlah dada atau hati  niscaya Allah memberi kelapangan hidup , serta perintah berdirilah atau bangkitlah jangan menganggap diri rendah niscaya Allah akan mengangkat derajat kedudukan dalam hidup

Kelapangan dada atau hati adalah langkah awal bagi terwujudnya semua kemudahan, kelapangan hidup dan kedudukan yang baik. Perhatikan surat Al Insyirah ( Surat 94) yang artinya Kelapangan sbb.:
1.       Bukankah Kami telah melapangkan dadamu?
2.       Dan Kami angkat beban darimu
3.       Yang memberatkan punggungmu
4.       Dan Kami tinggikan sebutan bagimu
5.       Maka sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan
6.       Sesudah kesulitan itu ada kemudahan
7.       Maka apabila telah selesai (suatu urusan) kerjakan dengan sungguh-sungguh (urusan yang lain)
8.       Dan hanya kepada Tuhan-mulah engkau berharap.

Barangkali kita pernah membaca membaca sebuah Hadis Qudsi yang terkenal dimana Allah berfirman “ Aku mengikuti sangkaan hamba-KU” Kalau kita menilai diri tidak mampu, tidak akan bisa mencapai sesuatu, maka pikiran kita akan mengeluarkan berbagai alasan kenapa tidak mampu dan tidak bisa. Namun jika kita memiliki keyakinan kuat kita bisa mencapainya, apalagi bersandar kepada Yang Maka Kuasa dan kekuasaan-Nya tanpa batas, pikiran kita akan menemukan jalan-jalan yang selama ini tertutup karena kita sendiri yang selama ini  menutupnya.

Semua benda atau materi di alam semesta ini memiliki unsur partikel  terkecil yang disebut atom. Atom terdiri dari dua unsur yakni proton dan neutron. Belakangan para akhli menemukan bahwa unsur-unsur ini ternyata adalah energi. Dan ketahuilah bahwa energi dapat dikendalikan oleh kekuatan  pikiran. Barangkali kita pernah menemukan suatu kejadian yang disebut orang kena santet. Paku, jarum dan benda-benda materi lainnya bisa ada di dalam perut seseorang. Atau dalam film serial Startrek digambarkan orang bisa  berpindah tempat ke tempat yang dituju hanya dalam sekejap mata  setelah sebelumnya orang tersebut diubah menjadi energi dan dikembalikan lagi menjadi materi pada tempat yang dinginkan.

Dalam Islam terdapat Lima pilar untuk mencapai kebahagiaan lahir dan batin. Lima pilar ini juga merupakan lima langkah kekuatan untuk meraih kehidupan yang penuh dengan kenikmatan. (BERSAMBUNG)