Selasa, 20 Desember 2011

4 AYAT SEBAGAI ALAT UKUR KEIMANAN



Pengakuan iman adalah mudah. Setiap orang dapat melakukan hal itu. Namun hati-hati apakah iman kita telah sesuai dengan aturan-Nya. Allah berfirman dalam Surat Al Baqoroh ayat 8 :

“ Dan di antara manusia ada yang berkata, ‘kami telah beriman kepada Allah dan hari akhir,’ padahal sesungguhnya mereka itu bukanlah orang-orang yang beriman.”

Dalam Al Quran terdapat 4 ayat yang menggambarkan kondisi batin orang yang beriman dengan sebenarnya, yakni dalam surat Al-mukminun ayat 57 s/d 59 sbb.:

“ Sungguh orang-orang yang karena takut Tuhan-nya, mereka sangat berhati-hati. Dan mereka yang beriman dengan tanda-tanda  kekuasaan Tuhan-Nya, dan mereka yang tidak mempersekutukan Tuhan-nya. Dan mereka yang memberikan apa yang mereka berikan dengan hati penuh rasa takut (karena mereka yakin) bahwa sesungguhnya mereka akan kembali krpada Tuhan-Nya.”

Dari 4 ayat tersebut dapat dijabarkan 4  sifat orang beriman sebagaimana berikut :

1.       Rasa takutnya terbukti dengan selalu berhati-hati.

Hanya orang bodoh yang merasa dirinya sudah  aman dari azab Allah, sedangkan orang yang berilmu makin besar rasa takut mereka terhadap Allah. Hak dan batil adalah setipis kulit bawang. Walaupun siang-malam kita beribadah, tapi dalam diri ada ketakaburan, maka ibadah itu tidak bernilai. Hakekatnya dia adalah pengikut Iblis , biang takabur. Rasul SAW melakukan salat malam sampai kakinya bengkak  karena lamanya berdiri, demikian pula orang-orang saleh terdahulu, lebih banyak salat malam dan membaca Al Quran daripada tidur. Maka jika seorang mengaku iman sekedar salat fardlu yang tergesa-gesa dan jauh dari kekhusuan, jauh dari kehati-hatian baik dalam salat dan di luar salat, dia berada di luar kategori ini . Hal yang paling aneh zaman ini banyak yang mengaku penceramah agama melakukan banyolan dan membuat orang terpingkal-pingkal di hadapan Al Quran. Apakah ini tergolong takut dan hati-hati? Apakah para Rasul menyampaikan ajaran dengan cara seperti itu?   Rasul SAW bersabda :” Aku yang paling takut diantara kalian dan aku paling merasa terancam.”

2.       Beriman dengan ayat-ayat Allah.

Ayat-ayat Allah adalah segala ciptaan-Nya di langit dan di bumi dan firman-Nya, Al Quran. Berapa banyat ayat-ayat Al Quran yang sudah kita kuasai? Tahukan larangan danperintah-Nya di setiap surat Al Quran? Jangan-jangan kita membaca Al Quran jika ada kematian atau setiap malam Jumat tanpa mengerti terjemahnya, sedangkan Al Quran itu pedoman hidup, petunjuk, bukan pajangan atau senandung nyanyian. Apakah di waktu malam dan waktu luang kita lebih banyak membaca Al Quran daripada kegiatan lain? Jangan sampai kita tertipu dengan perasaan sudah beriman.

3.       Tidak mempersekutukan-Nya.

Mempersekutukan-Nya bukan seperti pengertian anak kecil yakni menyembah patung dan berhala secara sempit. Namun berhala yang paling berbahaya adalah hawa nafsu kita sendiri. Ketika kita melalukan kebaikan yang di dalamnya ada dorongan lain seperti riya dan bangga diri, maka Allah berlepas dari amal kita. Ketika kita salat namun sepanjang salat pikiran dan perasaan melayang tidak menentu, pernyataan takbir kita “Allahu Akbar” adalah bohong semata, karena yang besar adalah urusan-urusan kita dan orang-orang, bukan Allah. Lahir batin orang beriman dari ubun-ubun sampai mata kaki bergetar karena Allah ketika salat  , batin mereka tunduk dan hanya ada Dia, bukan selain Dia dalam alam rasa dan pikirnya.

4.       Saat memberi  justru diliputi rasa takut.

Mampu memberi sering menimbulkan kebanggaan karena merasa lebih dari yang menerima. Sampai nyawa di tenggorokan Iblis akan tetap berupaya meniupkan kekafiran tanpa terasa. Orang awam digoda dengan maksiat, orang mengaku beriman dengan hawa nafsu dhohir dan orang-orang saleh dengan hawa nafsu halus, semisal ujub tanpa disadari. Hanya orang-orang yang benar imannya yang hatinya terpelihara dan waspada. Saat memberi dan beramal justru hati mereka takut jika ada kemusrikan tidak disadari, takut amal sia-sia, takut merasa mengaku atas hasil jerih payah sendiri bukan karena pertolongan-Nya, dsb.

Kita memohon pertolongan-Nya agar mampu mengkaji diri, melakukan evaluasi dan introspeksi, sehingga tergolong menjadi hamba-Nya, bukan menjadi hamba Iblis tanpa disadari. Amin..